Bukittinggi,- (ANTARA) - Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat kembali memprogramkan sekolah keluarga sebagai upaya peningkatan kualitas generasi dan mencarikan solusi terhadap persoalan yang selalu muncul dari unit terkecil di rumah tangga.

"Pembangunan ketahanan keluarga bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan. Program sekolah keluarga yang telah berjalan selama tujuh tahun menjadi salah satu solusi strategis dalam meningkatkan kualitas keluarga," kata Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Bukittinggi Yessi Endriani, Kamis.

Yessi menyampaikan keprihatinan atas berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat, seperti tingginya angka stunting, maraknya kasus narkoba, hingga pergaulan bebas di kalangan generasi muda.

Dia menekankan bahwa kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama, termasuk peran aktif camat dan lurah di wilayah masing-masing.

Pendekatan berbasis dasawisma dinilai penting untuk menyisir permasalahan hingga ke tingkat paling bawah.

“Ketahanan keluarga tidak bisa diibaratkan seperti membalikkan telapak tangan. Berbagai fenomena yang terjadi dalam rumah tangga, seperti pola asuh yang tidak selaras dan meningkatnya angka perceraian, menjadi perhatian serius," katanya.

Baca juga: Kemendukbangga siapkan pembangunan keluarga sejak dini lewat SSK

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Bukittinggi Susi Yanti menyampaikan bahwa modul yang digunakan dalam sekolah keluarga disusun berdasarkan rujukan para pakar, termasuk ahli parenting, tokoh adat, dan tokoh agama.

Ia juga menegaskan peserta program merupakan masyarakat yang belum pernah mengikuti kegiatan serupa sebelumnya, sehingga diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas.

"Untuk tahun 2026, sekolah keluarga gemilang akan diikuti oleh 720 orang peserta dengan distribusi maksimal 30 orang per kelurahan," kata Susi Yanti.

Menurut dia, program ini dirancang secara aplikatif agar dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para peserta sehingga mampu menciptakan generasi masa depan yang lebih berkualitas.

"Hingga saat ini tercatat sebanyak 2.267 peserta telah diwisuda, atau sekitar 5,3 persen dari total 42.733 kepala keluarga di Kota Bukittinggi," katanya.

Sekolah keluarga adalah program pendidikan dan pembinaan masyarakat terutama di Bukittinggi untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui optimalisasi delapan fungsi keluarga yaitu keagamaan, budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup, mencegah masalah sosial seperti kekerasan pada perempuan dan anak, serta membentuk generasi tangguh, sehat, dan berdaya saing.

Baca juga: Pemkot Palu hadirkan inovasi untuk perkuat ketahanan keluarga

Pewarta: Altas Maulana
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.