Jakarta (ANTARA) - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) University Alim Setiawan Slamet mengemukakan pihaknya menyiapkan miliaran benih untuk ketahanan pangan guna mengantisipasi krisis energi akibat konflik global.

"Tadi Menteri Pertanian menyatakan akan memborong sekitar 250 miliar benih dari IPB untuk antisipasi kalau sampai terjadi resesi global dan juga krisis pangan global," katanya ditemui usai konferensi pers IPB Run 2026 di Jakarta, Kamis.

Alim menambahkan, IPB juga telah menghasilkan inovasi IPB 9G, yakni varietas padi unggul baru (VUB) yang dikenal sebagai padi "amfibi" karena mampu beradaptasi tinggi di lahan kering (gogo) maupun lahan basah (sawah).

"IPB 9G yang kita punya itu potensi produksinya sekitar 10-11 ton per hektare, nah, ini yang kita akan seriusi tahun ini," ujar dia.

Sebagai langkah penghematan bahan bakar minyak (BBM), Alim mengemukakan IPB University juga telah melaksanakan kebijakan pemerintah untuk menerapkan kerja dari rumah atau work from home (WFH).

Baca juga: IPB: Limbah kelapa sawit potensial jadi produk bernilai tambah

"Kita sudah melaksanakan WFH satu hari dalam lima hari kerja untuk penghematan BBM, termasuk juga efisiensi untuk di kampus," paparnya.

Kebijakan tersebut, lanjut dia, telah berlangsung sejak 6 April 2026 yang disambut positif oleh seluruh sivitas akademika. Namun demikian, ia menekankan pentingnya WFH tersebut agar tidak mengurangi produktivitas para dosen maupun pegawai.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan tengah memperkuat integrasi peternakan dan perkebunan melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) guna meningkatkan efisiensi usaha, menekan biaya pakan, serta mendukung ketahanan pangan nasional berkelanjutan.

"Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit atau SISKA ini sebagai langkah strategis meningkatkan produktivitas peternak sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional," kata Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Tri Melasari.

Tri menegaskan SISKA merupakan bagian dari strategi besar pembangunan peternakan yang berkelanjutan melalui sistem produksi yang efisien dan berbasis sumber daya lokal.

Baca juga: Akademisi: Penerapan teknik biointensif tekan biaya produksi pertanian
Baca juga: Prabowo ingatkan ancaman krisis pangan, energi, dan air

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.