anak-anak dengan down syndrome perlu dikenalkan pada berbagai aktivitas sejak dini agar potensi mereka bisa terlihat

Program observasi ini merupakan bagian dari peringatan Hari Down Syndrome Sedunia yang digelar Puskesmas Cilandak bersama Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS).

Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk melihat langsung bagaimana pelayanan kesehatan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Puskesmas Cilandak, Sunersi Handayani, mengatakan, kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan dunia kerja kepada peserta, meski masih dalam bentuk observasi. Menurut dia, pengalaman langsung seperti ini penting untuk membangun kepercayaan diri.

“Awalnya mereka mengajukan magang, tetapi karena keterbatasan kapasitas dan belum ada mekanisme baku, kami konversi menjadi observasi pelayanan,” kata Sunersi.

Selama sekitar empat jam, para peserta diajak berkeliling dan mengenal berbagai unit layanan, mulai dari pendaftaran hingga administrasi, dengan pendampingan tenaga kesehatan.

Mereka juga dikenalkan pada alur pelayanan dan tugas-tugas dasar yang dilakukan petugas.

Menurut Sunersi, tantangan utama dalam kegiatan ini adalah komunikasi dan penyesuaian metode pendampingan. Setiap anak memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda, sehingga pendekatan yang dilakukan pun tidak bisa disamaratakan.

“Perlu empati dan kesabaran, karena daya serap informasi dan kondisi fisik tiap anak berbeda,” kata dia.

Namun di balik tantangan tersebut, ia melihat potensi besar. Peserta dinilai kooperatif dan menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan. Mereka mampu mengikuti arahan dengan baik dan menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas yang diberikan.

Bagi orang tua, kesempatan seperti ini bukan sekadar aktivitas sesaat, melainkan bagian dari proses panjang membangun kemandirian. Pengalaman langsung menjadi bekal penting agar anak-anak dapat lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perwakilan POTADS, Erni, mengatakan anak-anak dengan down syndrome perlu dikenalkan pada berbagai aktivitas sejak dini agar potensi mereka bisa terlihat. Menurutnya, setiap anak memiliki minat yang berbeda dan perlu diarahkan secara bertahap.

“Ada yang suka seni seperti Evi yang ingin jadi penari, ada yang olahraga seperti Fauzi, ada juga yang suka kegiatan sosial seperti Rafi. Kita arahkan sesuai minat mereka,” kata Erni.

Pendekatan ini, menurut dia, menjadi kunci agar anak-anak tumbuh percaya diri dan menemukan ruangnya di masyarakat. Dengan mengenali minat sejak dini, anak-anak dapat lebih mudah mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Merangkul disabilitas

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.