Makassar (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi untuk membangun ketahanan iklim berbasis sains.
Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas Rijal M Idrus PhD di Makassar, Sulsel, Jumat, mengatakan salah satu fokus utama kolaborasi tersebut, penguatan edukasi perubahan iklim berbasis bukti ilmiah yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Selain itu, program peningkatan kapasitas menjadi komponen penting dalam kerja sama ini, dengan sasaran berbagai pemangku kepentingan di tingkat lokal.
Upaya ini, kata dia, mencakup pelatihan, pendampingan, serta penguatan kompetensi dalam implementasi aksi iklim.
“Integrasi program ke dalam skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik juga menjadi salah satu strategi kunci untuk memperluas jangkauan intervensi. Mahasiswa diharapkan berperan sebagai agen perubahan yang mampu mengimplementasikan solusi berbasis sains di masyarakat,” katanya.
Baca juga: KLH dampingi 12 daerah di Sulsel dalam pengendalian perubahan iklim
Direktur Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim KLH Irawan Asaad mengatakan kolaborasi bersama Unhas dapat diperkuat melalui pertukaran data dan informasi sebagai fondasi pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Menurut dia, ketersediaan data yang terintegrasi menjadi hal penting dalam merancang kebijakan yang responsif dan berbasis nyata.
Dia menyebutkan dukungan terhadap kegiatan penelitian yang menjadi bagian penting dalam memperkuat basis ilmiah dari setiap program yang dijalankan.
Penelitian diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia.
“Pendampingan implementasi aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat lokal dapat dilakukan secara bersama-sama, termasuk pengelolaan sampah berkelanjutan, yang nantinya diharapkan mampu memberikan dampak nyata sekaligus menjadi model replikasi di wilayah lain,” katanya.
Pendekatan berbasis sains memastikan setiap kebijakan dan tindakan didasarkan pada data. Dengan dukungan pemodelan iklim, data meteorologi, dan riset empiris, pemerintah dapat memetakan risiko secara akurat dan merancang langkah adaptasi yang efektif.
Baca juga: Bapanas sebut cadangan kuat jaga ketahanan pangan dari krisis iklim
Baca juga: BRIN soroti adaptasi teknologi pertanian untuk hadapi perubahan iklim
Pewarta: Abdul Kadir
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.