Moskow (ANTARA) - Kementerian Energi Moldova menyatakan cadangan bensin di negaranya diperkirakan hanya cukup untuk 16 hari, sedangkan cadangan elpiji cukup untuk 17 hari dan cadangan bahan bakar diesel untuk lima hari.
Sebelumnya, pemerintah di negara Eropa timur itu telah menetapkan status siaga tinggi di sektor energi, dengan alasan risiko keamanan di tengah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah serta adanya potensi fluktuasi harga.
"Cadangan bahan bakar untuk konsumsi bensin cukup hingga 16 hari, untuk konsumsi elpiji 17 hari, dan konsumsi bahan bakar diesel lima hari," kata kementerian tersebut lewat unggahan di media sosial pada Kamis (9/4).
Baca juga: Krisis energi UE berlanjut karena bergantung pada Selat Hormuz
Kementerian Energi Moldova menjelaskan bahwa lebih dari 1.300 ton bensin dan 2.400 ton bahan bakar diesel diimpor ke negara itu pada Selasa ((7/4).
Selasa itu juga, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi pada Rabu (8/4) mengatakan bahwa Selat Hormuz—yang menangani sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) global—akan kembali dibuka.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Krisis global dinilai peluang bagi RI percepat energi baru terbarukan
Baca juga: Kurangi LNG, Jepang tingkatkan produksi listrik dari batu bara
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.