Pendekatan triple helix menjadi kunci utama yang mengintegrasikan peran universitas, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi

Makassar (ANTARA) - Konselor Pendidikan dan Sains Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Yvonne Klerks berbagi pengalaman pendidikan dan riset pada kuliah umum di Ruang Senat Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Jumat.

Dalam pemaparannya, Klerks menyoroti bagaimana Belanda membangun sistem pendidikan tinggi dan riset yang terintegrasi dengan kebutuhan global.

Meskipun secara geografis relatif kecil, kata dia, Belanda mampu menjadi salah satu pusat inovasi dunia melalui penguatan kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah.

Klerks mengungkapkan, sistem pendidikan tinggi Belanda terdiri dari dua jalur utama, yakni universitas riset dan universitas ilmu terapan. Kedua sistem ini dirancang saling melengkapi, di mana riset akademik dikembangkan sejalan dengan kebutuhan praktis di lapangan.

Baca juga: Unhas- Anhui Fuxin kolaborasi tarik mahasiswa asing asal Tiongkok

Ia juga menekankan hubungan internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi dan sains di Belanda. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara prioritas, sehingga kerja sama terus diperkuat melalui pendekatan government to government serta kolaborasi langsung antar perguruan tinggi.

“Peran kami adalah memastikan terbangunnya konektivitas yang kuat antara institusi, sehingga kolaborasi riset dan pendidikan dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata,” jelasnya pada kuliah umum bertajuk “Indonesia–Netherlands Relations on Higher Education and Science”.

Lebih lanjut, Klerks memaparkan berbagai platform kolaborasi yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dan akademisi, seperti Indonesia–Netherlands Knowledge House yang mempertemukan universitas dari kedua negara.

Di bidang riset, dirinya menjelaskan adanya peluang pendanaan bersama antara Belanda dan Indonesia, termasuk melalui kolaborasi dengan lembaga seperti LPDP dan NWO. Fokus penelitian diarahkan pada isu strategis global, seperti ekonomi biru, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.

Baca juga: KLH dan Unhas kolaborasi untuk ketahanan iklim berbasis sains

Menurut Klerks, pendekatan triple helix menjadi kunci utama yang mengintegrasikan peran universitas, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi. Sinergi ini menjadi kunci agar riset tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi mampu menghasilkan solusi yang aplikatif dan berdampak.

Bagi Unhas, kolaborasi internasional seperti yang terbangun bersama Belanda menjadi bagian penting dalam memperkuat kualitas pendidikan dan riset.

Rektor Prof Jamaluddin Jompa menjelaskan, Unhas terus mendorong kolaborasi bersama mitra strategis untuk mendorong sinergi yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi berkontribusi pada pengembangan inovasi yang berdampak.

“Unhas terus meningkatkan daya saing lulusan di tingkat internasional. Salah satu langkah konkret yang ditargetkan adalah memastikan seluruh mahasiswa Unhas memiliki kompetensi bahasa Inggris berstandar global,” kata Prof JJ.

Baca juga: Akademisi dorong negara perkuat tanggung jawab HAM di sektor nikel

Konselor Pendidikan dan Sains Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Yvonne Klerks dan Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa berfoto bersama usai membawakan kuliah umum di Makassar, Jumat,(10/4/2026).ANTARA/HO-Unhas

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.