Teheran (ANTARA) - Iran menyatakan kekhawatiran jika Amerika Serikat (AS) memanfaatkan periode gencatan senjata untuk memperkuat persenjataannya, kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi, Jumat.

"Kami tidak memerlukan gencatan senjata yang memungkinkan musuh untuk kembali mempersenjatai diri dan melakukan agresi lagi," kata diplomat tersebut, seperti dikutip portal informasi Pemerintah Iran.

Dia menegaskan bahwa Teheran mendukung diplomasi dan dialog, tetapi bukan yang justru membuka peluang bagi serangan baru terhadap wilayah Iran. Takht-Ravanchi menambahkan bahwa rencana 10 poin yang diajukan Iran akan menjadi dasar dalam pembicaraan perdamaian.

Menurut dia, tindakan angkatan bersenjata Iran selama konflik telah memaksa AS dan Israel untuk meninjau kembali "visi strategis" mereka terhadap Teheran.

Baca juga: Pesawat militer AS lepas landas dari Israel di tengah isu negosiasi

Sebelumnya, Selasa (7/4), Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran, serta memastikan bahwa Iran juga setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kemudian menyatakan bahwa Teheran akan memulai pembicaraan dengan AS pada Jumat di Islamabad, Pakistan.

Pada Rabu (8/4), pesawat tempur dan artileri Israel menyerang puluhan permukiman di Lebanon selatan, termasuk di kota utama Tyre. Trump menyatakan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena faktor kelompok Hizbullah.

Namun demikian, Iran menilai hal tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati antara AS dan Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran bergantung pada komitmen terhadap kewajiban gencatan senjata di semua garda depan.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: Kanada dorong Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata

Baca juga: Dalam sehari, Hizbullah Lebanon lancarkan 72 serangan ke Israel

Penerjemah: Primayanti
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.