Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh mengingatkan bahwa sudah seharusnya Nahdlatul Ulama senantiasa merawat persatuan dalam menghadapi beragam dinamika yang ada.

Menurut Ni'am, dikutip di Jakarta, Senin, komitmen persatuan merupakan salah satu nilai yang menjadi pondasi tegaknya organisasi (jam’iyyah) NU, sebagaimana dimuat dalam muqaddimah Qanun Asasi atau dokumen landasan ideologis dan konstitusi dasar Nahdlatul Ulama yang dirumuskan oleh KH Hasyim Asy'ari.

"Karenanya, kita perlu kembali kepada Qanun Asasi sebagai pijakan berorganisasi. Komitmen ke depan, harus membangun kesadaran kembali kepada prinsip dasar organisasi, kesatuan dan persatuan untuk mengoptimalkan perkhidmatan”, ujar dia.

Hal itu dia sampaikan dalam sambutannya di acara Halal Bihalal Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) yang digelar di Jakarta, Minggu (12/4) malam.

Berikutnya, Ni'am mengingatkan semangat kebersamaan dalam NU itu harus terus dirawat agar tidak mudah terpecah oleh perbedaan orientasi, baik keagamaan maupun politik. Dia kemudian mengatakan bahwa idealnya, sebagaimana nilai dasar organisasi, tidak ada ruang di NU untuk pertikaian dan perpecahan.

“Jika pengurus dan jamaah NU memahami utuh Qanun Asasi serta menjadikannya sebagai pijakan, maka pasti tak ada pertentangan yang menjurus pada perpecahan atau syiqaq berkepanjangan. Di sinilah pentingnya kita kembali pada Qanun Asasi," kata dia.

Sejalan dengan itu, Ni'am mengingatkan bahwa jika terdapat perbedaan pandangan di antara suatu pihak, pihak yang lain harus berperan sebagai juru damai, bukan menjadi kompor yang memanaskan.

“Muktamar NU ke depan harus menjadi jalan menuju persatuan dan kebersamaan, dengan menempatkan norma yang ada dalam Muqaddimah Qanun Asasi sebagai pijakan”, ujarnya.

Selanjutnya, Ketua MUI Bidang Fatwa itu juga menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat silaturahim sebagai perekat utama persaudaraan di tengah perbedaan. Ia menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum untuk “mempertautkan hati” demi menjaga dan mempererat hubungan antarsesama.

Ia mengingatkan pentingnya menyelesaikan konflik secara bijak dan tidak menjauh dari kebersamaan, sebagaimana nasihat orang tua yang selalu relevan dalam kehidupan sehari-hari.

“Perbedaan pilihan, afiliasi, maupun pandangan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun, dengan bertemu dan bersilaturahim, minimal kita bisa membangun kesepahaman, meskipun belum tentu langsung mencapai kesepakatan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa dalam kehidupan berorganisasi, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, seluruh elemen harus tetap berpegang pada prinsip dasar yang telah diwariskan para pendiri, yang termaktub dalam Muqaddimah Qanun Asasi, seperti komitmen persatuan dan persaudaraan.

Baca juga: Badan otonom NU minta jaga persatuan respon dinamika internal NU

Baca juga: Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora jadi ketua MA IPNU

Baca juga: MPR : NU berusia 100 tahun, pilar persatuan dan penjaga republik

Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.