Keberlanjutan industri asuransi sangat ditentukan oleh adopsi digital, tata kelola yang baik, manajemen risiko yang kuat, serta peningkatan literasi asuransi masyarakat
Jakarta (ANTARA) - PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) mempercepat transformasi bisnis dengan terus melakukan perbaikan melalui peningkatan kualitas portofolio bisnis, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta tata kelola perusahaan guna meningkatkan daya saing di tengah ketatnya persaingan industri perasuransian.
Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis ASEI Agus Sulih Purwanto mengatakan transformasi tersebut diarahkan pada perbaikan kualitas bisnis secara menyeluruh, mulai dari evaluasi produk, penyederhanaan proses, peningkatan layanan, hingga pemanfaatan teknologi untuk menjangkau pelanggan secara lebih luas.
Menurut Agus, transformasi ASEI saat ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni perbaikan kualitas bisnis, penguatan kualitas SDM, serta tata kelola perusahaan. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi untuk membangun organisasi yang adaptif, agile, dan mampu bersaing di industri asuransi yang semakin kompetitif.
“Transformasi di ASEI kami arahkan pada perbaikan kualitas bisnis, kualitas SDM, dan penguatan tata kelola. Tiga hal ini menjadi fondasi utama agar perusahaan lebih adaptif dan kompetitif,” kata Agus yang memiliki pengalaman lebih dari 22 tahun di industri asuransi umum tersebut.
Transformasi mulai menunjukkan dampak positif terhadap kinerja perusahaan. Sepanjang 2025, ASEI mencatat pertumbuhan premi (topline) hingga 300 persen dan pertumbuhan hasil underwriting diatas 240 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, rasio kesehatan keuangan perusahaan tetap terjaga di atas ketentuan regulator, termasuk rasio solvabilitas, likuiditas, dan ekuitas sesuai standar Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam strategi bisnis ke depan, ASEI akan memperkuat positioning sebagai perusahaan asuransi umum yang memiliki keunggulan di sektor financial insurance, khususnya asuransi perdagangan dengan tetap medorong pertumbuhan bisnis pada lini usaha lainnya.
ASEI akan memfokuskan ekspansi bisnis pada lini usaha Asuransi Perdagangan sebagai value proposition dan Asuransi Umum Segmen Ritel yang dinilai memiliki margin lebih kuat serta relevan dengan perkembangan industri dan kebutuhan masyarakat.
Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, ASEI berkomitmen untuk meningkatkan perannya sebagai mitra strategis dalam memberikan perlindungan terhadap transaksi perdagangan dalam negeri maupun transaksi ekspor. Langkah ini dinilai relevan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang berpotensi mengganggu sektor perdagangan.
Agus menjelaskan bahwa kondisi geopolitik saat ini menunjukkan bahwa risiko perdagangan itu nyata. Disrupsi rantai pasok global, konflik antarnegara, hingga fluktuasi nilai tukar dapat berdampak langsung terhadap kelancaran transaksi ekspor. Karena itu, perlindungan atas risiko perdagangan menjadi semakin penting.
Menurut Agus, Asuransi Perdagangan kini bukan lagi sekadar instrumen pendukung, melainkan bagian strategi dalam menjaga keberlangsungan dan daya saing pelaku usaha nasional di pasar global. Risiko gagal bayar, risiko politik, hingga pembatasan perdagangan lintas negara menjadi faktor yang harus diantisipasi sejak awal melalui mekanisme proteksi yang tepat.
“Kami memperkuat portofolio asuransi perdagangan sekaligus membangun ekosistem yang solid. Kami tidak hanya menawarkan proteksi, tetapi juga solusi komprehensif yang terintegrasi dengan pembiayaan dari perbankan mitra Asei dan dukungan lain bagi pelaku usaha,” jelas Agus.
Selain Asuransi Perdagangan, segmen ritel menjadi salah satu perluasan bisnis ASEI ke depan, seiring dengan perubahan perilaku konsumen dan berkembangnya ekosistem digital.
Agus menyampaikan bahwa penguatan bisnis ritel telah mulai dilakukan melalui kegiatan peluncuran produk baru paket ritel MyAsei, antara lain, myAsei Pelajar (perlindungan untuk pelajar), myAsei Griya (perlindungan properti hunian), myAsei Pesona (solusi perlindungan personal), myAsei Travel (perlindungan perjalanan), dan myAsei Oto 2 & Oto 4 (perlindungan kendaraan bermotor). Selain itu, dalam menjawab tantangan di era digitalisasi, perusahaan juga telah merilis produk cyber insurance sebagai respons terhadap meningkatnya risiko digital dan kebutuhan perlindungan data pribadi.
Dari sisi distribusi, ASEI terus memperkuat berbagai kanal pemasaran, mulai dari keagenan, bancassurance, broker, direct channel, hingga kemitraan dengan pelaku insurtech. Perusahaan juga mengembangkan pola kerja sama operasi (KSO) sebagai bagian dari strategi penetrasi pasar berbasis jaringan distribusi langsung untuk menjangkau market yang lebih luas di daerah-daerah yang memiliki potensi bisnis sejalan dengan strategi perusahaan.
Agus menilai industri asuransi nasional dalam tiga hingga lima tahun ke depan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, meskipun akan diiringi konsolidasi industri, digitalisasi yang semakin masif, serta regulasi yang lebih ketat. Tantangan utama industri, menurutnya meliputi rendahnya literasi asuransi masyarakat, ketatnya persaingan yang semakin menggerus margin dan menekan profitabilitas, serta tuntutan adaptasi teknologi.
“Keberlanjutan industri asuransi sangat ditentukan oleh adopsi digital, tata kelola yang baik, manajemen risiko yang kuat, serta peningkatan literasi asuransi masyarakat,” ujarnya.
Dengan strategi transformasi dan ekspansi tersebut, ASEI menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dari sisi kinerja keuangan, penguatan portofolio bisnis, serta kontribusi yang lebih besar terhadap penguatan industri perasuransian nasional.
Sebagai penutup, Agus menegaskan bahwa ASEI akan terus menyeimbangkan penguatan dua pilar utama bisnisnya, yakni Asuransi Perdagangan dan Asuransi Umum Segmen Retail. Dengan kombinasi kedua fokus bisnis tersebut, ASEI optimistis dapat tumbuh berkelanjutan sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penguatan industri asuransi dan mendukung terciptanya ketahanan ekonomi nasional.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.