Perfitri: Empat juta pasangan alami gangguan kesuburan

Perfitri: Empat juta pasangan alami gangguan kesuburan

Dokumentasi--Program Bayi Tabung. Dr. Dian Tjahyadi memerlihatkan cara memasukkan sperma ke dalam sel telur dalam diskusi program bayi tabung di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (4/6). RSHS memiliki Aster Fertility Clinic yang bisa digunakan orang tua yang ingin memiliki anak dengan Program Bayi Tabung. Program tersebut berkisar Rp49 juta dengan prosentase kehamilan sekitar 36%, sementara dari 500 pasien yang mengikuti program tersebut sekitar 20% di antaranya berhasil hamil dan melahirkan. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

Tren siklus bayi tabung di Indonesia semakin meningkat setiap tahun,...
Jakarta (ANTARA News) - Sekjen Perhimpunan Fertilitas In Vitro Indonesia (PERFITRI) Budi Wiweko mengatakan terdapat empat juta pasangan usia subur yang mengalami gangguan kesuburan.

"Data prevalensi infertilitas saat ini di Indonesia sebesar 10 hingga 15 persen dari 40 juta pasangan usia subur, jadi terdapat 4 juta pasangan usia subur yang mengalami gangguan kesuburan," kata Budi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Dia menyatakan hal tersebut dalam acara "Medical Tourism Kini Hadir di Sahid Sahirman Fertility Center: Bayi Tabung Pintar di Jantung Kota Jakarta".

Ia menjelaskan apabila lima pasangan infertilitas membutuhkan pelayanan bayi tabung, maka kurang lebih terdapat 200.000 pasangan usia subur yang harus dibantu dengan teknologi bayi tabung.

"Tren siklus bayi tabung di Indonesia semakin meningkat setiap tahun, data dari 28 klinik bayi tabung yang tersebar di 11 kota dan 8 provinsi di Indonesia, terdapat sebanyak 4.827 siklus yang terbagi atas 4.127 siklus baru dan 750 dalam bentuk simpan beku pada tahun 2014," katanya pula.

Berkaitan potensi "Medical Tourism", Budi menjelaskan bahwa di Indonesia tidak hanya potensial untuk mendapatkan pasien dari luar negeri, tetapi yang lebih penting adalah mendapat kepercayaan pasien dalam negeri.

"Pada 2012, Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri mencapai lebih dari Rp110 triliun," ujar dia.

Strategi "Medical Tourism" yang tepat, kata dia, harus bisa diformulasikan untuk menarik kembali pasien dan devisa negara yang lari ke luar negeri.

"Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain tarif yang kompetitif, infrastruktur fisik, dan peralatan yang modern, pelayanan berkualitas yang sesuai dengan bukti ilmiah, orang-orang yang kompeten dan siap bersaing, serta meningkatkan keterjangkauan akses," kata Budi pula.

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar