Target dari pelaksanaan festival ini sendiri yaitu Inasua bukan hanya menjadi produk lokal yang hanya bisa nikmati oleh masyarakat TNS, tetapi nantinya produk dari Inasua ini nanti dikembangkan, diolah, kemudian dikemas dalam kemasan yang menarik,

Jakarta (ANTARA) - Sebagai negara maritim, pengawetan ikan dengan metode pengasinan di Indonesia adalah hal lazim. Masyarakat Teon Nila Serua (TNS) di Maluku punya metode unik bernama Inasua. Dalam bahasa Nila, ina artinya ikan, sementara sua berarti garam. Di Teon, sebutannya Inmana, sementara di Serua sebutannya inaskua.

Berbeda dengan ikan asin pada umumnya, metode fermentasi dalam inasua ini tidak melewati proses pengeringan di bawah sinar matahari. Ikan dibersihkan, dibalur dengan garam, kemudian dimasukkan ke dalam wadah selama beberapa lama. Proses ini membuat tekstur ikan tetap basah dan awet dalam jangka panjang.

Disajikan mentah, inasua bisa dibilang mirip dengan sashimi versi asin.

Peneliti Universitas Pattimura, Ferymon Mahulette, mengatakan inasua juga menjadi bekal para leluhur masyarakat Teon Nila Serua yang berlayar ke Ambon untuk menjual hasil bumi.

Kala itu, perjalanan kapal layar ke Ambon dari Teon, Nila, Serua bisa memakan waktu hingga satu bulan karena harus melawan arus. Makanan yang awet menjadi bekal perjalanan yang tepat agar nelayan bisa bertahan hidup selama melaut dalam waktu yang panjang. Inasua juga dibuat untuk menyimpan pasokan ikan yang berlebih saat musim melaut.

“Inasua juga ini dipersiapkan pada waktu pergantian musim, musim angin, musim ombak. Seng (tidak) bisa melaut,” ujar Maria Lakotani Marantika (62), warga asli Nila yang kini menetap di Kokroman, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah.

Sejak akhir 70-an, masyarakat adat di gugus kepulauan Teon Nila Serua direlokasi ke Pulau Seram oleh pemerintah karena ada ancaman gunung berapi.

Maria Lakotani Marantika dari Pulau Nila, Rabu (8/4/2026) memperlihatkan inasua buatannya, ikan fermentasi ala Teon Nila Serua (TNS) Maluku yang sudah dijadikan Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015. (ANTARA/Nanien Yuniar)

Maria, yang akrab disapa Merry, masih remaja 13 tahun saat direlokasi. Meski sudah berpindah tempat, tradisi Inasua tetap dipertahankan oleh masyarakat, setidaknya pada acara-acara khusus dan istimewa. Inasua jadi salah satu menu yang wajib dihadirkan dalam acara-acara adat maupun keagamaan setempat.

Biasanya, inasua dibuat oleh masyarakat di pulau TNS, kemudian dibawa untuk orang-orang yang ada di Pulau Seram serta tempat-tempat lain.

Maria juga sering pulang ke pulau kelahirannya untuk memanen hasil kebun.

“Biasanya bulan-bulan Juni, akhir Mei, Juni sampai Agustus itu, itu mulai pulang karena harus panen, panen cengkih,” kata Maria, mengenang perjalanan dengan perahu kayu dahulu kala yang bisa memakai waktu hingga lima hari.

Nantinya ikan-ikan yang sudah difermentasi di kepulauan TNS dibawakan kepada masyarakat di kecamatan TNS di Pulau Seram, bahkan masyarakat TNS yang bermukim di tempat lain.

"Kalau Inasua ini ada permintaan rutin sebenarnya, ada yang salah satu kelompok usaha disini malah dia kirimnya rutin ke Jakarta karena permintaan dari masyarakat TNS yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya," kata Ronald Wonmaly, Camat Teon Nila Serua, Maluku Tengah.

Ikan dikirim sesuai jadwal kapal yang berlayar dari Amahai, Pulau Seram, ke pulau Teon, Nila, dan Serua. Kapal ini berlayar setiap dua pekan sekali.

Baca juga: YKAN gelar lokakarya untuk masyarakat Teon Nila Serua di Maluku Tengah

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.