Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) meluncurkan inovasi pembiayaan pembangunan karantina bernama Finquest guna mempercepat modernisasi infrastruktur dan layanan karantina di seluruh wilayah Indonesia.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Barantin Benny Alamsyah mengatakan Finquest dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sumber pembiayaan sehingga pembangunan karantina tidak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Finquest hadir sebagai terobosan strategis dalam mentransformasikan pembiayaan pembangunan karantina dari berbagai sumber dana,” kata Benny berdasarkan keterangannya di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan sumber pembiayaan yang diintegrasikan melalui Finquest antara lain APBN, Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN), surat berharga syariah negara (SBSN), serta investasi atau kerja sama dengan pihak investor.
Baca juga: Karantina Sumut musnahkan lima ton mangga dari Vietnam
Menurut Benny, transformasi melalui Finquest diarahkan pada lima intervensi utama, yakni transformasi pembiayaan, modernisasi infrastruktur karantina, digitalisasi dan integrasi sistem layanan karantina, penguatan sistem biosekuriti nasional, serta reformasi tata kelola dan kelembagaan.
“Melalui inovasi Finquest, harapannya dapat memperkuat dan berkelanjutan untuk proses transformasi Barantin, sehingga mampu menghadirkan sistem karantina yang modern, adaptif, dan terintegrasi,” ujarnya.
Ia mengatakan implementasi awal transformasi pembiayaan tersebut mulai terlihat pada 2025, ketika modernisasi peralatan laboratorium untuk program revitalisasi telah menjangkau 18 unit pelaksana teknis dengan nilai Rp34,45 miliar.
Pada 2026, Barantin mengalokasikan anggaran sebesar Rp307 miliar, termasuk Rp79 miliar dari SBSN untuk pembangunan instalasi, gedung laboratorium, peralatan laboratorium, dan peningkatan sarana layanan.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.