middle power ... akan memainkan peran penting dalam membentuk tatanan dunia berikutnya
Jakarta (ANTARA) - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyampaikan bahwa peran negara-negara dengan kekuatan menengah (middle power) semakin menonjol dalam menentukan arah konflik dan perdamaian global.
Pernyataan Dino tersebut merujuk pada perubahan dinamika hubungan internasional yang tidak lagi didominasi satu kekuatan besar.
"Dunia sedang bergeser, bertransformasi, dan kita tidak tahu bagaimana transformasi ini akan berakhir. Namun, yang kita tahu adalah kelompok middle power dari Utara dan Selatan, sekitar 20 negara, akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan tatanan dunia berikutnya," kata Dino di acara Middle Power Conference di Jakarta, Selasa.
Mantan wakil menteri luar negeri (wamenlu) RI itu menjelaskan bahwa peran aktif negara kelompok middle power di berbagai krisis global turut terlihat dalam perang antara Amerika Serikat dan Iran, yang disebut sebagai contoh perang antara kekuatan besar dan menengah.
Baca juga: Dino: Dewan Perdamaian bukan solusi akhir, RI harus waspadai AS-Israel
Di satu sisi, lanjut Dino, konflik tersebut melibatkan Pakistan, salah satu negara middle power, yang berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan.
Di sisi lain, Arab Saudi, yang juga negara berkekuatan menengah, dinilai memiliki potensi untuk memperluas konflik, meskipun sejauh ini memilih untuk menahan diri.
"Jadi, kita melihat bagaimana dinamika perang dan perdamaian serta arah tatanan dunia dipengaruhi oleh negara-negara yang dikenal sebagai middle power," ucap Dino.
Baca juga: Dino Patti Djalal ingatkan RI terus tegaskan solusi dua negara di BoP
Selain dalam konflik tersebut, Dino juga menyoroti pengaruh negara berkekuatan menengah dengan kekuatan ekonomi dan militer yang semakin signifikan.
Dia mengutip kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) yang memiliki nilai produk domestik bruto melampaui Group of Seven atau G7, yang terdiri atas negara dengan ekonomi maju.
Selain itu, anggaran pertahanan sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Arab Saudi, dan India, bahkan melampaui beberapa negara Eropa.
"Jadi dengan semua ini, asumsinya adalah bahwa middle power, sekitar 20 negara di Utara dan Selatan global, akan memainkan peran penting dalam membentuk tatanan dunia berikutnya," ujar Dino.
Baca juga: Dino Patti Djalal desak Trump hentikan serangan ke Iran
Kendati peran negara-negara berkekuatan menengah semakin meningkat, dia menilai bahwa peran tersebut belum sepenuhnya mapan.
Menurut Dino, masih terdapat pertanyaan mengenai kemampuan negara-negara middle power untuk bersatu, menyelesaikan konflik, hingga mengambil peran kepemimpinan dalam sistem internasional.
Meskipun demikian, dia menekankan bahwa tren penguatan kerja sama antarnegara berkekuatan menengah mulai terlihat. Indonesia, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan hubungan bilateral dengan sejumlah negara, seperti Australia, Prancis, India, Korea Selatan, dan Turki.
FPCI menilai kondisi tersebut menuntut Indonesia untuk segera merumuskan strategi sebagai negara penguasa menengah, termasuk dalam menentukan posisi dan mitra strategis di tengah perubahan.
Baca juga: Dino Patti: Prabowo tekankan Indonesia punya opsi keluar dari BoP
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.