Los Angeles (ANTARA) - China menjadi pemimpin global dalam hal volume publikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), jumlah sitasi, total output paten, dan instalasi robot industri, menurut laporan yang dirilis, Senin (13/4).
Disusun oleh Institute for Human-Centered AI di Universitas Stanford, Laporan Indeks AI 2026 telah melacak pengembangan AI sejak 2017, yang mencakup kemampuan teknis, volume (output) penelitian, dampak sosial, dan persepsi publik.
Berbagai temuan utamanya meliputi menyusutnya kesenjangan kinerja antara model AI di Amerika Serikat (AS) dan China, tingkat pengadopsian yang mencapai rekor tertinggi, dan ekspansi akses AI tercepat sepanjang sejarah.
Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan AI sedang berkembang pesat, sementara upaya pengukuran dan pengelolaannya masih tertinggal. Laporan tersebut juga mengungkapkan kekhawatiran soal biaya lingkungan, transparansi, dan distribusi manfaat.
Laporan itu menyebutkan bahwa AS terus menghasilkan lebih banyak model AI kelas atas dan paten yang berdampak lebih besar, dan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan semua negara lainnya untuk AI. Kendati demikian, negara itu semakin kesulitan untuk menarik talenta global terbaik.
Sementara itu, gangguan pasar ketenagakerjaan yang dipicu oleh AI mulai bergeser dari ekspektasi menjadi kenyataan, dengan para pekerja yang lebih muda menjadi pihak pertama yang terdampak.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa upaya AI yang bertanggung jawab gagal mengimbangi kemajuan teknologi, pendidikan formal tertinggal jika dibandingkan dengan perkembangan yang terjadi, dan kedaulatan AI mulai menjadi ciri khas kebijakan nasional terlepas dari kemampuan yang belum merata. Para pakar dan masyarakat memiliki pandangan yang sangat berbeda perihal masa depan AI, imbuh laporan itu.
Pewarta: Xinhua
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.