Purwokerto (ANTARA) -

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE) di Desa Wlahar Wetan guna mengurangi beban pengolahan sampah seiring meningkatnya timbulan harian.

Kepala DLH Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri di Purwokerto, Banyumas, Selasa, mengatakan kapasitas TPST BLE yang saat ini beroperasi dirancang hanya mampu mengolah sekitar 40 ton sampah per hari, sementara volume sampah yang masuk terus meningkat signifikan.

"Sekarang sampah yang masuk bisa mencapai 160 ton per hari untuk organik yang sudah terpilah dan sekitar 60 ton bahan RDF. Ini jauh di atas kapasitas desain awal," katanya.

Menurut dia, peningkatan volume sampah tersebut tidak terlepas dari berkembangnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mengelola sampah di tingkat desa.

Saat ini, terdapat sekitar 70 KSM di Banyumas, dengan 40-50 di antaranya telah memiliki infrastruktur pengolahan.

Secara keseluruhan, pengelolaan oleh KSM mampu menangani sekitar 500 ton sampah rumah tangga per hari dari total timbulan sampah di Banyumas yang mencapai kisaran 700-800 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen di antaranya diolah menjadi bahan bakar turunan (refuse-derived fuel/RDF) atau sekitar 150 ton per hari, serta sekitar 40 ton sampah organik.

Oleh karena itu, DLH Banyumas berencana melakukan perluasan dan peningkatan kapasitas TPST BLE dengan luasan yang diperkirakan hampir sama dengan fasilitas eksisting sekitar 1,5 hektare.

Pengembangan tersebut saat ini dalam proses lelang oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui satuan kerja di tingkat provinsi, dengan harapan konstruksi dapat dimulai dan diselesaikan pada tahun 2026.

Baca juga: Menteri PU harapkan TPA BLE Banyumas direplikasi daerah lain

Dengan adanya pengembangan tersebut, TPST BLE ditargetkan dapat meningkatkan cakupan layanan pengelolaan sampah di Banyumas dari sekitar 75 persen menjadi 78-80 persen.

"Kami tidak menargetkan terlalu tinggi, tetapi yang penting ada peningkatan layanan dan tekanan terhadap TPST bisa berkurang," kata Sugiri.

Selain penguatan TPST BLE, kata dia, DLH Banyumas juga mendorong penguatan bank sampah di tingkat desa untuk menangani berbagai jenis sampah, termasuk yang bernilai rendah seperti plastik kresek dan limbah rumah tangga lainnya.

Saat ini jumlah bank sampah aktif masih sekitar 40-an unit, sehingga ke depan ditargetkan dapat terbentuk di seluruh desa dan kelurahan yang berjumlah 331 wilayah, terdiri atas 301 desa dan 30 kelurahan.

Menurut dia, keberadaan bank sampah akan disinergikan dengan KSM agar pengelolaan sampah menjadi lebih optimal dan berkelanjutan, termasuk dalam pengumpulan minyak jelantah yang selama ini lebih banyak dikelola oleh bank sampah.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Banyumas juga membuka peluang investasi dalam pengolahan sampah, termasuk rencana kerja sama dengan investor dari Malaysia untuk pengolahan bijih plastik dari limbah plastik.

Ia menilai pengembangan TPST BLE tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kelembagaan, kesiapan sumber daya manusia, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), serta dukungan pembiayaan operasional.

Baca juga: Bupati: UNCDF berikan hibah untuk pengelolaan sampah di Banyumas

"Pendekatan tersebut dinilai penting agar infrastruktur yang dibangun tidak hanya selesai secara konstruksi, tetapi benar-benar berfungsi optimal, dimanfaatkan secara berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak nyata dalam pengurangan beban sampah di Kabupaten Banyumas," kata Sugiri.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.