Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya penggunaan kurva pertumbuhan sebagai alat utama untuk memantau tumbuh kembang anak sekaligus mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan.

Dokter spesialis dari Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi IDAI Prof. dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A, Subsp.Endo(K), Ph.D mengatakan bahwa kurva pertumbuhan bukan sekadar grafik angka, melainkan gambaran pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

“Kalau sudah diukur tingginya, kita belum bisa interpretasi. Harus diplot dulu ke kurva pertumbuhan. Di sinilah pentingnya kurva pertumbuhan,” kata Jose dalam webinar “Mengenal dan Memahami Kurva Pertumbuhan pada Anak” yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Protein hewani mudah diserap tubuh dan bantu pertumbuhan anak

Jose menjelaskan, pemantauan pertumbuhan harus dilakukan secara akurat dan berkala dengan teknik pengukuran yang benar.

Kesalahan posisi tubuh saat pengukuran, menurut dia, dapat menghasilkan data yang tidak akurat dan berpotensi menimbulkan kesalahan diagnosis.

Ia menuturkan, setelah hasil pengukuran diplot ke kurva, tenaga kesehatan dapat menilai apakah pertumbuhan anak normal, terlalu pendek, atau justru berlebih. Dari situ, diagnosis dapat ditegakkan dan intervensi dilakukan lebih cepat.

Baca juga: Dietisien jelaskan mengapa protein penting bagi pertumbuhan anak

Lebih lanjut Jose menyampaikan bahwa pemantauan tidak cukup dilakukan satu kali. Minimal diperlukan dua kali pengukuran dengan jarak tiga hingga enam bulan untuk melihat tren pertumbuhan anak.

“Kalau cuma sekali mengukur, kita hanya tahu posisi anak saat itu. Tapi tidak bisa melihat proses pertumbuhannya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pada usia di bawah dua hingga tiga tahun, anak masih dapat mengalami perubahan jalur pertumbuhan atau “kanalisasi”.

Baca juga: Panduan penting cegah anak stunting

Namun setelah usia tiga tahun, pertumbuhan anak seharusnya mengikuti jalur yang stabil dan tidak lagi melintasi kurva secara drastis.

Jose juga mengatakan kurva pertumbuhan juga berperan dalam mendeteksi penyakit kronis atau gangguan hormonal yang memengaruhi pertumbuhan, seperti kekurangan hormon pertumbuhan atau penyakit kronis lain.

IDAI pun mengingatkan pentingnya penggunaan kurva pertumbuhan yang sesuai dengan populasi. Adapun penggunaan kurva internasional tanpa penyesuaian dapat menyebabkan salah interpretasi, termasuk overdiagnosis stunting.

Ia menambahkan, IDAI berharap orang tua semakin memahami cara membaca kurva pertumbuhan agar dapat berperan aktif dalam memantau kesehatan anak sejak dini.

“Kalau kita pakai kurva yang tidak sesuai, anak bisa terlihat pendek padahal sebenarnya normal,” kata Jose.

Baca juga: Standar tinggi badan ideal anak berdasarkan umur dan jenis kelamin

Baca juga: Rekomendasi makanan untuk tingkatkan tinggi badan anak secara alami

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.