Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan Stress Awareness Month, di mana pada 2026 tema yang diusung adalah #BeTheChange, menjadi ajakan untuk tidak hanya menyadari isu stres, tetapi juga mengambil langkah nyata dalam mengatasinya mulai dari hal kecil.

"Di Indonesia, pesan ini terasa semakin relevan dengan kondisi sosial yang penuh tekanan. Lonjakan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian ekonomi global, dan ancaman pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor menjadi pencetus stres yang nyata bagi banyak keluarga," ujar Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, di Jakarta, Selasa.

Dia mengutip WHO yang menyebutkan kerugian ekonomi global akibat stres dan gangguan mental mencapai 1 triliun dolar AS per tahun. Sementara di Indonesia biaya langsung dan tidak langsung akibat gangguan jiwa mencapai Rp 87,5 triliun. Angka-angka ini menunjukkan bahwa stres bukan hanya melemahkan individu, tetapi juga produktivitas bangsa.

Jika tahun lalu dunia menekankan kasih sayang dan empati lewat kampanye #LeadWithLove, kini fokusnya bergeser pada aksi personal dan kolektif, yakni bagaimana setiap individu bisa menjadi agen perubahan dalam membangun ketahanan mental.

Baca juga: DPR buka ruang keterlibatan psikolog dalam sistem pendidikan nasional

Tidak sedikit masyarakat yang harus menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga kesehatan mental. Situasi ini menambah beban psikologis, terutama bagi kelompok rentan yang sudah berjuang dengan ketidakamanan pangan dan biaya hidup yang terus meningkat.

Untuk memahami mengapa stres begitu berbahaya, katanya, perlu melihat patofisiologinya. Stres adalah respons fisiologis dan psikologis ketika seseorang menghadapi tekanan yang dianggap melebihi kapasitasnya.

Aktivasi sistem saraf simpatik memicu pelepasan hormon epinefrin dan norepinefrin, yang meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan metabolisme.

"Jika berlangsung lama, kortisol dilepaskan secara terus-menerus. Hormon ini, meski berguna dalam jangka pendek, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, mengganggu metabolisme gula darah, dan merusak keseimbangan hormon lain," ujarnya.

Akibatnya, stres kronis berkontribusi pada munculnya penyakit kardiovaskular, diabetes, obesitas, gangguan autoimun, serta gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan insomnia. Dengan kata lain, stres bukan hanya perasaan sesaat, tetapi proses biologis yang nyata dan merusak bila dibiarkan.

Baca juga: PDSKJI: Perlu peringatan edukatif pada iklan terkait kesehatan mental

#BeTheChange mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil. Mindfulness, olah raga rutin, tidur cukup, dan dukungan sosial adalah fondasi sederhana yang bisa dilakukan setiap orang. Di tempat kerja, budaya inklusif, kebijakan fleksibel, dan layanan konseling dapat mencegah burnout.

"Pemerintah pun dituntut untuk memperkuat integrasi layanan kesehatan mental dalam sistem nasional, melanjutkan kampanye literasi, dan menyediakan dukungan finansial bagi kelompok rentan," katanya.

Benchmarking dari negara Skandinavia, Singapura, dan Australia menunjukkan bahwa kebijakan yang responsif dan berbasis bukti mampu menekan dampak stres secara signifikan.

Stress Awareness Month 2026 bukan sekadar peringatan, melainkan momentum untuk bergerak. Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, ketahanan mental menjadi fondasi penting bagi kesehatan, produktivitas, dan harapan bersama.

"Dengan #BeTheChange, kita diajak untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga bertransformasi dan menjadikan stres sebagai pemicu lahirnya solidaritas, inovasi, dan keberanian menghadapi masa depan," ujarnya.

Baca juga: Legislator: Kesehatan mental harus masuk dalam kurikulum pendidikan
Baca juga: KPAI: Penguatan pengasuhan positif perlu untuk kesehatan mental anak

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.