Sampah yang dulu dianggap tidak bernilai kini mulai dipahami sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan

Purwokerto (ANTARA) - Pagi merekah di Desa Wlahar Wetan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, saat aktivitas di TPST BLE mulai berjalan, menghadirkan denyut baru pengelolaan sampah yang perlahan mengubah tumpukan limbah menjadi harapan bagi lingkungan dan masyarakat.

Di sudut Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE), suara mesin berpadu dengan kesibukan para pekerja yang memilah, menimbang, dan mengolah sampah tanpa henti. Truk-truk pengangkut datang silih berganti, membawa muatan dari berbagai penjuru wilayah, menandai betapa besar tantangan yang dihadapi Banyumas dalam mengelola sampah.

Namun, di tempat itulah, persoalan yang selama ini dianggap sebagai beban perlahan berubah makna. Sampah tidak lagi semata limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses yang tepat.

Perubahan tersebut tidak terjadi secara instan karena merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga pelaku usaha.

“Yang kita bangun bukan hanya tempatnya, tetapi sistemnya, dari hulu sampai hilir,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri.

Kabupaten Banyumas saat ini menghadapi timbulan sampah yang mencapai kisaran 700-800 ton per hari. Angka tersebut mencerminkan dinamika pertumbuhan wilayah, aktivitas ekonomi, serta pola konsumsi masyarakat yang terus berkembang.

Dari total tersebut, sekitar 500 ton sampah telah dikelola oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang tersebar di berbagai desa dan kelurahan. KSM menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas, terutama dalam pemilahan dan pengolahan awal.

Perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam sistem ini. Warga yang sebelumnya belum terbiasa memilah sampah, kini mulai memisahkan sampah organik dan anorganik sejak di rumah.

Langkah sederhana tersebut membawa dampak besar. Sampah yang sudah terpilah memudahkan proses pengolahan di tingkat komunitas maupun di fasilitas terpadu seperti TPST BLE.

Pengelolaan tiga lapis

Dalam hal ini, Banyumas mengembangkan sistem pengelolaan tiga lapis, yakni di tingkat rumah tangga, komunitas melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) atau Pusat Daur Ulang (PDU) maupun TPST, dan di hilir melalui TPST-BLE.

Hingga saat ini, sekitar 70 KSM yang terlibat dalam pengelolaan sampah di Banyumas. Namun, baru sekitar 40-50 KSM yang telah memiliki infrastruktur pengolahan yang memadai,

Di tangan KSM, sampah mulai diubah. Sekitar 30 persen dari sampah yang dikelola dapat diolah menjadi bahan baku refuse-derived fuel (RDF), sementara sebagian lainnya menjadi kompos atau material lain yang masih memiliki nilai guna.

Namun, tantangan masih tetap ada karena tidak semua hasil olahan KSM dapat langsung terserap oleh TPST BLE. Sebagian masih tertahan di tingkat komunitas karena keterbatasan kapasitas fasilitas lanjutan.

Saat ini, TPST BLE menerima sekitar 160 ton sampah organik terpilah dan 60 ton bahan RDF setiap hari. Angka tersebut jauh melampaui kapasitas awal fasilitas yang hanya dirancang untuk mengolah sekitar 40 ton per hari.

Kondisi tersebut menimbulkan tekanan yang cukup besar terhadap sistem yang ada. Tanpa pengembangan, efektivitas pengolahan berpotensi turun.

“Karena itu pengembangan menjadi penting agar sistem tetap berjalan optimal,” kata Sugiri.

Di tengah keterbatasan tersebut, TPST BLE Banyumas tetap menunjukkan peran strategisnya sebagai simpul hilir pengolahan sampah.

Setiap hari, Banyumas mengirimkan sekitar 80-100 ton RDF ke pabrik semen di Cilacap dan Ajibarang. Dari jumlah tersebut, sekitar 50-70 ton diproduksi langsung oleh TPST BLE, selebihnya diproduksi oleh TPST dan RDF Center Sokaraja Kulon yang dikelola badan usaha milik daerah (BUMD) PT Banyumas Investama Jaya (Perseroda).

Pemanfaatan RDF ini menjadi salah satu contoh konkret penerapan konsep ekonomi sirkular, di mana sampah diolah menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Selain RDF, TPST BLE juga menghasilkan berbagai produk turunan dari sampah anorganik. Plastik bekas diolah menjadi paving block dan genteng plastik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

Produk-produk tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah secara ekonomi.

Untuk sampah organik, pengolahan dilakukan melalui budi daya maggot serta produksi biomassa. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara biomassa yang dihasilkan menjadi potensi energi baru.

Sebagian biomassa tersebut tengah dijajaki untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat melalui kerja sama dengan PLN dan industri semen.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Banyumas tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, juga pada pemanfaatan kembali sebagai sumber daya.

Perluasan fasilitas

Meski demikian, keterbatasan kapasitas tetap menjadi kendala utama. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Banyumas merencanakan pengembangan TPST BLE sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem.

Rencana pengembangan mencakup perluasan fasilitas dengan luasan lahan sekitar 1,5 hektare, hampir setara dengan fasilitas yang sudah ada saat ini.

Proyek tersebut kini memasuki tahap lelang yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui satuan kerja di tingkat provinsi.

Pemerintah daerah berharap proses tersebut dapat segera rampung sehingga pembangunan fisik dapat dimulai dalam waktu dekat.

Namun, Banyumas tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur. Penguatan sistem secara menyeluruh juga menjadi perhatian utama.

Hal ini mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan anggaran operasional, serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan disiplin.

“Keberhasilan tidak hanya diukur dari bangunan yang selesai, tetapi apakah sistemnya benar-benar berjalan,” kata Sugiri.

Selain KSM, bank sampah juga menjadi bagian penting dalam ekosistem pengelolaan sampah di Banyumas.

Selama ini, bank sampah lebih banyak mengelola sampah bernilai tinggi. Namun ke depan, perannya akan diperluas agar mampu menerima berbagai jenis sampah, termasuk yang bernilai rendah.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah daerah berupaya mencari mitra pemanfaat yang dapat mengolah sampah bernilai rendah menjadi produk seperti biji plastik.

Langkah ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru, sekaligus mengurangi beban residu yang harus ditangani.

Dengan jumlah desa dan kelurahan sebanyak 331 wilayah, Banyumas punya potensi besar untuk memperluas jaringan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Pemerintah daerah menargetkan pembentukan bank sampah di setiap desa dan kelurahan agar layanan pengelolaan sampah dapat menjangkau seluruh wilayah.

Sinergi antara KSM, bank sampah, dan TPST BLE menjadi fondasi penting dalam sistem pengelolaan sampah Banyumas.

Dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan di tingkat komunitas, hingga pemanfaatan di tingkat industri, seluruh proses dirancang saling terhubung.

Kesadaran masyarakat

Di balik semua itu, perubahan terbesar sebenarnya terletak pada kesadaran masyarakat.

Sampah yang dulu dianggap tidak bernilai kini mulai dipahami sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Proses perubahan ini memang tidak instan, tetapi perlahan menunjukkan hasil yang nyata.

Di TPST BLE Wlahar Wetan, perubahan tersebut dapat dilihat setiap hari. Sampah yang datang tidak lagi sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna.

Banyumas mungkin belum sepenuhnya terbebas dari persoalan sampah. Cakupan layanan saat ini baru mencapai sekitar 75 persen.

Namun dengan pengembangan TPST BLE, pemerintah daerah menargetkan peningkatan layanan hingga sekitar 78-80 persen.

Target tersebut bukan sekadar angka, tetapi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Di tengah kompleksitas persoalan yang ada, Banyumas memilih untuk terus bergerak. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, daerah ini berupaya membangun sistem yang tidak hanya mampu mengatasi persoalan saat ini, tetapi juga siap menghadapi tantangan di masa depan.

Banyumas menyadari bahwa pengelolaan sampah bukan pekerjaan yang selesai dalam waktu singkat. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, komitmen, dan kerja sama.

Namun dari proses itulah, asa mulai tersulam, pelan namun pasti, dari tumpukan sampah yang dikelola bersama.

Sebuah ikhtiar yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi akan menentukan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat di masa mendatang.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.