Jakarta (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menyatakan Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk mengelola timbulan sampah hingga 100 ribu ton per hari.

Hanif menyampaikan, Indonesia memang telah memiliki teknologi waste to energy yang dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia, tetapi, kapasitas tersebut baru mampu mengolah sekitar 40 ribu ton per hari.

"Untuk kapasitas besar paling proven (terbukti) yaitu melalui insinerasi (pembakaran dengan suhu tinggi) yang meliputi 31 wilayah aglomerasi pada 86 kabupaten/kota dengan proyeksi sampah yang mampu dikelola di angka 40 ribu ton per hari maksimal, sehingga, masih ada 100 ribu ton per hari yang harus kita pikirkan karena secara demografi letaknya berpencar-pencar, tidak mungkin pakai teknologi insinerasi," katanya di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Danantara prioritaskan teknologi yang sudah terbukti untuk PSEL

Namun demikian, pada prinsipnya Kementerian LH terbuka pada semua teknologi yang terbukti dan memang bisa adaptif dengan masyarakat.

"Teknologi refuse-dry fuel dan teknologi lainnya, biogas, biodigester tetap harus kita operasionalkan dan susun secara detail untuk sampah ang berada di selain 86 kabupaten/kota yang total sampahnya mencapai seratus ribu ton per hari," ujar dia.

Ia menekankan, terkait mekanisme, metodologi, dan karakteristik pengelolaan sampah akan disesuaikan dengan demografi setempat untuk memastikan bahwa target nasional penanganan sampah yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dapat tercapai 100 persen di tahun 2029.

Baca juga: Menteri LH tetapkan 20 wilayah aglomerasi prioritas PSEL

Hanif juga menyampaikan, sebanyak 20 wilayah aglomerasi pada 47 kabupaten/kota akan menjadi prioritas investasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Hal tersebut dilakukan karena Presiden Prabowo Subianto meminta penanganan di wilayah kota dan aglomerasi yang timbulan sampahnya lebih dari 1.000 ton per hari agar diprioritaskan dalam PSEL.

"Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menetapkan 20 aglomerasi pada 47 kabupaten dan kota. Dari 20 aglomerasi tersebut, empat aglomerasi telah dilengkapkan oleh Danantara, sisanya sebanyak 16 sudah lengkap, dan untuk yang lainnya kami lengkapi kemudian," katanya.

Baca juga: Menteri LH minta akhiri open dumping untuk tekan potensi TPA terbakar

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.