Jakarta (ANTARA) - Pengamat sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menyebut pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan militer.

Menurut Iwan, pembicaraan antara dua kepala negara itu diharapkan akan berlanjut menjadi kesepakatan konkret, terlebih Indonesia sudah menjadi anggota BRICS sejak 2025.

"Keanggotaan Indonesia ini diapresiasi Putin dan membuka peluang kerja sama lainnya, seperti di sektor energi dan militer. Harapannya tentu pembicaraan ini berlanjut menjadi kesepakatan konkret antar kedua negara," ucapnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Ia menyampaikan kerja sama di sektor energi sangat penting bagi kedua negara di situasi global yang tidak menentu di tengah konflik Timur Tengah.

Selain itu, dia mengharapkan pertemuan tersebut dapat berkontribusi positif dalam meredam konflik yang masih memanas di Timur Tengah.

“Apalagi pascatidak adanya kesepakatan dalam perundingan yang dilakukan antara Iran dan Amerika di Islamabad (Pakistan) kemarin," ujarnya.

Dalam peta geopolitik, tutur dia, Rusia mempunyai pengaruh besar terhadap Iran dan Amerika Serikat (AS) serta hubungan Indonesia juga relatif dekat dengan dua negara tersebut.

"Jika misi perdamaian dipelopori oleh Presiden Prabowo dengan mengajak Putin dan kepala negara lainnya, saya kira akan ada jalan perdamaian ke depannya," tuturnya.

Perang antara Iran vs AS-Israel, ujar dia, berpengaruh besar terhadap ekonomi dunia termasuk Indonesia, karena melonjaknya harga energi. Untuk itu, diplomasi yang dilakukan serta upaya apapun untuk mengakhiri konflik sangat penting.

"Posisi Indonesia yang menganut politik luar negeri yang bebas aktif bisa dimaksimalkan untuk melakukan misi perdamaian," kata Iwan.

Baca juga: Kunjungan Prabowo ke Rusia, Pengamat: RI ambil peran "bridge builder"

Baca juga: RI akan beli minyak Rusia, Pertamina tindak lanjuti sesuai arahan

Pewarta: Benardy Ferdiansyah/Muhammad Rizki
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.