Singapura (ANTARA) - Sektor e-commerce Asia Tenggara mempertahankan momentum yang kuat pada 2025, dengan nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) platform meningkat 22,8 persen secara tahunan (yoy) menjadi 157,6 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.122), demikian disampaikan perusahaan konsultan Singapura, Momentum Works, pada Selasa (14/4).

Dalam laporan keempatnya yang berjudul "Ecommerce in Southeast Asia", perusahaan tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan didorong oleh platform-platform terkemuka yang kembali melakukan ekspansi sembari terus meningkatkan infrastruktur, kemampuan pemenuhan pesanan, dan pengalaman pelanggan.

Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa industri itu memasuki fase baru di mana persaingan beralih dari ekspansi cepat ke kontrol yang lebih besar atas penciptaan permintaan (demand generation), logistik, dan margin.

Menurut laporan tersebut, Thailand dan Malaysia muncul sebagai pasar dengan pertumbuhan tercepat, mencatatkan peningkatan GMV masing-masing sebesar 51,8 persen dan 47,6 persen.

Pasar-pasar utama lainnya, termasuk Vietnam, Filipina, dan Singapura, mencatat pertumbuhan dua digit yang melampaui 20 persen, sementara Indonesia tetap menjadi pasar e-commerce terbesar di kawasan ini dengan pangsa pasar 37 persen, meskipun pertumbuhan melambat menjadi 2,2 persen.

Laporan tersebut menyoroti bahwa Asia Tenggara secara efektif menjadi pasar platform tiga pemain yang didominasi oleh Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, yang secara kolektif mengendalikan 98,8 persen dari GMV platform pada 2025.

Terlepas dari pertumbuhan yang kuat, laporan tersebut memperingatkan bahwa sebagian besar keterjangkauan di kawasan tersebut masih didukung oleh subsidi, kupon, dan diskon, alih-alih menurunkan biaya secara struktural, yang menunjukkan bahwa harga e-commerce belum mencapai titik terendah yang sebenarnya.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa permintaan e-commerce lintas perbatasan tetap tangguh meskipun regulasi diperketat, dengan para pemain besar berada di posisi yang lebih baik untuk beradaptasi dan memperluas jejak regional mereka.

Ke depannya, laporan tersebut mengidentifikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai "kekuatan disruptif" utama yang membentuk masa depan e-commerce, khususnya di bidang-bidang seperti pembuatan konten dan penciptaan permintaan, dengan platform-platform besar diperkirakan akan memainkan peran sentral dalam pengembangan dan penerapannya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.