Jakarta (ANTARA) - Perumda Air Minum (PAM) Jaya mengungkapkan bahwa air kotor dan bau yang ada di RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat disebabkan oleh menipisnya suplai air baku dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kerta Raharja (TKR) di Tangerang.
Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza menjelaskan, pihaknya membeli air curah dari perusahaan tersebut untuk disimpan pada reservoir.
"Jadi kan asal airnya itu dari TKR (Tirta Kerta Raharja) ya sumber airnya itu, PDAM di Tangerang. Kita beli air curah dari situ untuk ditaruh di reservoir kami. Nah mereka sempat ada gangguan suplai dari TKR karena ada gangguan sampah dari sumber air baku mereka di Bogor," kata Gatra saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Ia pun membantah bahwa masalah air kotor di kawasan tersebut telah terjadi selama bertahun-tahun, melainkan hanya terjadi selama beberapa waktu terakhir imbas kekurangan air baku.
Menurutnya, menipisnya pasokan air baku ini berdampak langsung pada volume air di dalam Distribution Service Reservoir (DSR) 4 milik PAM Jaya yang berlokasi di kawasan Permata Hijau.
Volume air yang menurun drastis pun menyebabkan endapan lumpur di dasar reservoir ikut tersedot ke dalam jaringan pipa distribusi warga.
"Sederhananya, kalau toren kita lupa bersihin, ketika airnya berkurang ke bawah maka sisa endapan pasti naik dong ke jaringan. Nah, itu sih kurang lebihnya (penyebab air hitam dan bau)," kata Gatra.
Baca juga: Warga Cengkareng kembali keluhkan kesulitan air bersih
Kemudian, untuk mengatasi masalah air kotor tersebut, PAM Jaya telah melakukan flushing atau pengurasan jaringan pipa di wilayah Rawa Buaya untuk membuang endapan lumpur di dalam pipa.
"Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah di-flushing. Dibuang sebenarnya airnya di pipa jaringan, dikuras karena tadi buat buang endapan-endapan itu," jelasnya.
PAM Jaya juga telah mengambil sampel di beberapa rumah pelanggan di RT 05/RW 02 dan memastikan air sudah kembali jernih. Namun, ia menyarankan agar warga membiarkan keran terbuka sejenak jika masih ada sisa kotoran yang keluar dari keran.
"Mungkin sisa-sisanya itu ke pelanggan masih ada endapannya. Kalau kayak gitu, harus buka dulu kerannya untuk buang sisa endapan yang ada di jaringannya. Habis itu harusnya sudah enggak ada isu lagi bau dan warna keruh," tuturnya.
Terkait keluhan warga bahwa air PAM sering mati pada siang hari dan baru mengalir deras pada dini hari, Gatra membenarkan adanya fenomena tersebut.
Menurutnya, hal ini terjadi karena kawasan Rawa Buaya dan sekitarnya berada di titik paling ujung dari jaringan distribusi pipa PAM Jaya di wilayah barat.
Pada saat waktu sibuk seperti pagi dan sore hari, air disebut sudah habis digunakan oleh pelanggan yang rumahnya berada di area dekat penampungan air.
Baca juga: PAM Jaya targetkan seluruh Jakarta terakses air bersih pada 2029
Terlebih, Gatra mengakui masih tingginya tingkat kebocoran pipa atau Non-Revenue Water (NRW) di jaringan PAM Jaya yang membuat distribusi air menjadi tidak optimal.
"Ketika air dipakai bersamaan, maka orang yang tinggalnya di ujung itu pasti dapatnya sisa. Tapi, ketika sudah di jam-jam tidak prime time untuk orang pakai air, otomatis kan tetangga-tetangga di depannya dia enggak pakai, makanya dia dapat tuh air (saat tengah malam)," ucap Gatra.
Oleh karena itu, wilayah permukiman yang berada di paling ujung jaringan baru bisa tersuplai dengan maksimal saat sebagian besar warga Jakarta sedang terlelap pada malam hari.
Lebih lanjut, Gatra mengungkapkan bahwa pasokan air untuk kawasan Jakarta Barat sebetulnya sangat bergantung pada proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Karian-Serpong yang dikerjakan pemerintah pusat.
Namun, proyek yang awalnya ditargetkan beroperasi pada 2023 tersebut mengalami penundaan dan belum juga selesai hingga saat ini.
"Maka, sementara ini memang pasokan air baku untuk kawasan Jakarta Barat kami masih cukup mengandalkan air dari PDAM TKR dan Tirta Benteng di Tangerang untuk dibawa ke reservoir PAM Jaya," ucapnya.
PAM Jaya juga kini terus melakukan perluasan jaringan perpipaan dan menambah jumlah pelanggan. Namun, peningkatan jumlah pelanggan itu belum diimbangi dengan penambahan jumlah produksi air baku.
Baca juga: PAM Jaya usut krisis air bersih di Tambora Jakbar
"Asumsinya ketika produksi cuma 100, sementara pelanggan yang kami layani nambah terus, akhirnya suplainya enggak nambah. Jadi penambahan jumlah pelanggan terhadap air yang ada saat kami miliki yang berpengaruh, itu (suplai tak setara)," ujar Gatra.
Meski SPAM Karian-Serpong tertunda, PAM Jaya memastikan target layanan air perpipaan 100 persen untuk seluruh warga Jakarta pada tahun 2029 dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan tetap dikejar.
"Dengan adanya delay itu juga kami tidak menjadikan itu sebagai alasan. Oleh sebab itulah kami berinisiatif membangun empat IPA (Instalasi Pengolahan Air) baru agar target 100 persen pada 2029 itu tetap tercapai. Jadi kita mengimbangi suplai produksinya dari tambahan empat IPA baru tersebut," tandas Gatra.
Sebelumnya, Sejumlah warga di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, kembali mengeluhkan kesulitan air bersih di wilayahnya.
Salah satu warga, Nurliana Sihombing (61), mengaku kesulitan air bersih telah dirasakan sejak pertama kali berlangganan air PAM sekitar 25 tahun lalu.
"Ya enggak belakangan (terjadi krisis air bersih), dari dulu. Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," ujar Nurliana kepada wartawan di lokasi, Selasa.
Baca juga: PAM Jaya tindaklanjuti keluhan warga Tambora soal sulitnya air bersih
Wanita paruh baya yang sudah menetap di kawasan tersebut selama lebih dari 30 tahun itu pun kadang bingung lantaran aliran air kembali normal dan bersih setiap tengah malam.
"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 WIB hingga sampai pukul 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," keluhnya.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.