Untuk itu, mari sejenak mengadopsi semangat “srikandi pemanah dahak” dalam diri dan melihat sejauh mana dampaknya bagi Indonesia.

Jakarta (ANTARA) - 37 tahun lalu, "Tiga Srikandi" Indonesia mencetak sejarah dengan merebut medali perak pada Olimpiade Seoul 1988, setelah mengalahkan Amerika Serikat di cabang panahan beregu putri.

Medali tersebut menjadi yang pertama bagi Indonesia sejak keikutsertaannya dalam Olimpiade pada 1952. Sejak itu, cabang panahan belum kembali menyumbang medali hingga Olimpiade Paris 2024.

Kendati demikian, prestasi yang ditorehkan Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani tetap menjadi tonggak penting dan membanggakan dalam sejarah olahraga Indonesia.

Menyandang predikat srikandi bukanlah hal remeh. Julukan itu lazimnya disematkan kepada perempuan yang telah memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, serta dikenal hingga ke panggung dunia

Salah satu contohnya adalah keberhasilan mempersembahkan medali perak pertama bagi Indonesia dalam ajang Olimpiade.

Namun, bagaimana jika yang “dipanah” bukanlah butt (bantalan anak panah), melainkan dahak manusia yang keluar dari kerongkongan?

Dahak yang berhasil "dipanah" itu justru menjadi kunci penyelamatan nyawa. Lantas, layakkah para perempuan “pemanahnya” disebut srikandi? Sejajarkah mereka dengan “Tiga Srikandi” Indonesia yang tersohor hingga diangkat ke layar lebar?

Para pemanah dahak

Pagi itu matahari bersinar cukup terik. Atap-atap rumah yang nyaris saling berciuman di atas gang permukiman Jelambar Baru, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, pada awal April 2026, tampak tak kuasa menahan panas dari bola gas raksasa itu.

Empat perempuan berjalan beriringan menuju sebuah rumah di ujung gang. Mereka mengenakan kemeja biru muda dengan tulisan “Agen Tumpas TBC” di bagian atas saku.

Langkah mereka cepat. Sandal jepit yang menjadi alas kaki turut berirama mengikuti ayunan langkah. Keempat perempuan itu tahu betul ke mana mereka pergi dan untuk tujuan apa.

Juriah memimpin di bagian depan, lalu diikuti Wiwit, Rini dan Tyas. Di dalam tas yang mereka bawa, ada beberapa kantong plastik cetik yang belum diketahui kegunaannya.

Setibanya di ujung gang, tampak deretan rumah yang berdempetan satu sama lain. Sejumlah ibu rumah tangga dengan daster khas duduk di depan rumah masing-masing.

Juriah dan rekan-rekannya berhenti di depan sebuah rumah, lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian, seorang pria lansia membuka pintu dan menampakkan wajahnya.

Melihat hari masih pagi, Juriah dan kawan-kawan mengajak lansia itu untuk duduk di tenda depan rumahnya, sembari berjemur di bawah sinar matahari pagi. Lansia itu mengikuti saran tersebut dan duduk di sana.

Sesekali, ia terbatuk hingga mengeluarkan dahak. Juriah pun mulai bertanya tentang kondisinya. Dengan nada pasrah, lansia itu mengaku kesehatannya tak kunjung membaik. Batuk yang dialaminya justru semakin parah dari hari ke hari.

Tak lama kemudian, ia kembali batuk berulang kali. Juriah dan kawan-kawan pun menyarankan agar ia pergi ke puskesmas setempat untuk memeriksakan kesehatannya.

Baca juga: Wamenkes: Pentingnya deteksi dini TBC terhadap lingkungan sekitar

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.