Jakarta (ANTARA) - Plastik bukan sekadar pembungkus. Dalam pertanian modern, plastik mengatur air, suhu, dan kehidupan tanaman.
Ketika harga plastik melonjak, lebih dari 50 persen, akibat gangguan pasokan energi global di Selat Hormuz, yang terguncang bukan hanya industri, tetapi juga fondasi ketahanan pangan. Kenaikan harga mulsa plastik menambah tekanan bagi petani yang bergantung pada input ini, sekaligus membuka persoalan yang jarang disadari.
Di lahan pertanian, plastik hadir dalam berbagai bentuk: mulsa yang menutup permukaan tanah, pipa irigasi yang menyalurkan air, hingga lapisan plastik UV pada greenhouse yang mengendalikan air, suhu, dan stabilitas lingkungan tumbuh. Semua itu bekerja pada satu tujuan utama—mengatur air—sehingga plastik bukan sekadar material, melainkan instrumen hidrologi.
Pada saat yang sama, sistem irigasi tetes memungkinkan air dialirkan langsung ke zona akar dengan efisiensi tinggi. Kombinasi ini menjadikan plastik sebagai alat yang secara efektif “mengunci” air di dalam sistem tanah, menjaga stabilitas lingkungan tumbuh, dan pada akhirnya menentukan tingkat produktivitas pertanian.
Hanya saja, ketergantungan ini justru membuka kerentanan. Ketika pasokan terganggu, sistem yang terlalu bergantung pada plastik ikut goyah.
Di titik inilah krisis berubah menjadi cermin—memaksa kita melihat ulang fondasi pertanian modern: apakah efisiensi yang dibangun selama ini terlalu bergantung pada material yang rapuh secara rantai pasok dan bermasalah secara ekologis?
Plastik memang membantu mengendalikan lingkungan tumbuh tanaman dalam jangka pendek, tetapi meninggalkan jejak panjang di dalam tanah. Sisa mulsa yang tertinggal terfragmentasi menjadi mikroplastik, mengganggu struktur tanah, pergerakan air, dan kehidupan biota yang menjadi kunci kesuburan. Dalam situasi ini, pertanian modern dihadapkan pada dilema: mempertahankan efisiensi berbasis plastik, atau membangun sistem yang lebih selaras dengan fungsi alami tanah.
Plastik yang digunakan dalam sektor pertanian tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari rantai industri panjang berbasis energi fosil. Sebagian besar bahan bakunya berasal dari kawasan Timur Tengah—wilayah yang selama beberapa dekade menjadi pusat produksi energi dunia. Negara-negara, seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, memiliki industri petrokimia terintegrasi yang memasok kebutuhan polimer global.
Bahan baku plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam yang diolah menjadi naphtha, etana, propana, dan butana, kemudian diproses melalui tahap cracking untuk menghasilkan senyawa dasar, seperti etilena dan propilena. Senyawa ini selanjutnya diolah menjadi monomer dan akhirnya menjadi resin plastik, seperti polyethylene, polypropylene, PVC, dan PET selanjutnya diekspor dalam bentuk butiran (pellet).
Dipertanyakan
Produksi plastik dunia, kini telah melampaui 400 juta ton per tahun dari sebelumnya, pada 1950 sekitar 2 juta ton. Produksi terus meningkat, seiring kebutuhan industri dan pangan global dan diprediksi akan menembus 1 miliar ton per tahun.
Penggunaan plastik dalam pertanian, kini telah mencapai skala yang sangat besar dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem produksi pangan modern. Data FAO menunjukkan bahwa secara global, sekitar 12,5 juta ton plastik digunakan langsung dalam kegiatan pertanian setiap tahun, mulai dari mulsa, irigasi, hingga perlindungan tanaman.
Kebutuhan untuk kemasan pangan 37 juta ton plastik, maka total penggunaan plastik dalam sistem pangan global mendekati 50 juta ton per tahun. Angka ini mencerminkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap plastik dalam menjaga produktivitas dan efisiensi pertanian.
Selama beberapa dekade, plastik menjadi solusi cepat untuk meningkatkan produktivitas. Mulsa plastik menjadi pilihan karena mampu menjaga kelembapan tanah, meningkatkan suhu tanah di dataran tinggi, serta menekan gulma secara efektif. Teknologi ini menjadi praktik umum di berbagai sentra produksi hortikultura di Indonesia.
Penggunaan mulsa plastik mampu menekan pertumbuhan gulma, hingga 80–95 persen, karena menutup permukaan tanah dari cahaya yang dibutuhkan untuk perkecambahan. Dengan demikian, kompetisi antara tanaman utama dan gulma dapat diminimalkan, sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk penyiangan.
Plastik juga berperan penting dalam pembungkus produk pangan, seperti tahu, tempe, sayuran, dan buah-buahan. Kemasan ini tidak hanya melindungi dari kontaminasi, tetapi juga menjaga kelembapan dan memperlambat kehilangan air, sehingga umur simpan lebih panjang.
Ketika harga plastik meningkat atau pasokannya terganggu, rantai distribusi pangan ikut terdampak—terutama untuk produk segar yang sangat sensitif terhadap kehilangan air dan kerusakan fisik.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.