Tokyo (ANTARA) - Jepang memutuskan untuk mengucurkan dana sebesar 10 miliar dolar AS (Rp171 triliun) untuk membantu negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut sumber Pemerintah Jepang, Rabu, bantuan tersebut akan disalurkan dalam bentuk pinjaman untuk membantu negara-negara Asia Tenggara mengamankan pasokan minyak mentah.
Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pun akan mengumumkan rencana bantuan tersebut dalam rapat daring bersama pemimpin negara-negara Asia Tenggara dalam waktu dekat, menurut sumber tersebut.
Jepang diketahui mengimpor produk turunan minyak bumi dari Asia Tenggara, termasuk produk-produk yang digunakan di fasilitas medis.
Mengingat negara-negara di Asia Tenggara memiliki cadangan minyak yang terbatas, muncul kekhawatiran bahwa keterbatasan pasokan tersebut bisa berdampak ke Jepang.
Baca juga: Jepang dan Oman sepakat dorong penurunan ketegangan di Timur Tengah
"Kami mempertimbangkan kerja sama dengan negara-negara Asia untuk mengamankan pasokan produk minyak bumi dan memperkuat rantai pasok," kata Kepala Sekretariat Kabinet Minoru Kihara dalam sebuah konferensi pers, Rabu.
Melonjaknya harga minyak menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara Asia Tenggara terkait kemampuan mereka membayar impor komoditas tersebut.
Gangguan apa pun yang terjadi dalam proses pengadaan komoditas tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi sektor kesehatan medis maupun berbagai industri di Jepang, kata sumber.
Oleh karena itu, Tokyo berupaya mengurangi risiko tersebut melalui bantuan keuangan, termasuk melalui fasilitas pinjaman yang disalurkan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), demi memastikan kestabilan pasokan energi dan memitigasi dampak ekonomi yang lebih luas.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Jepang berencana lepas cadangan minyak tambahan setara 20 hari Mei
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.