kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus berani mengatakan it's a sunrise

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional saat ini memiliki prospek cerah sebagai sektor yang memiliki perkembangan pesat (sunrise) di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Dirinya menyampaikan bahwa optimisme tersebut didukung oleh kinerja industri yang tetap tumbuh serta berbagai upaya penguatan daya saing yang terus dilakukan pemerintah

"Menurut data yang kami terima bahwa kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus berani mengatakan it's a sunrise," kata Agus Gumiwang dalam pameran Indo Intertex-Inatex 2026 di Jakarta, Rabu.

Dijelaskan dia, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025. Sektor industri pengolahan bahkan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan mendominasi ekspor hingga 84,89 persen dari total ekspor. Selain itu, sektor ini juga menyerap 20,31 juta tenaga kerja yang menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian.

Khusus industri TPT, sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan 3,55 persen (year-on-year), dengan nilai ekspor mencapai 12,08 miliar dolar AS dan surplus 3,45 miliar dolar AS, yang didorong terutama oleh ekspor pakaian jadi.

Dari sisi investasi, sektor TPT juga menunjukkan daya tarik dengan realisasi investasi mencapai Rp20,23 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3,96 juta orang atau sekitar 19,48 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan.

Meski demikian, menurut dia, sektor TPT masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, hingga dinamika permintaan pasar internasional. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha dalam merumuskan langkah antisipatif.

Lebih lanjut menurutnya, Indo Intertex-Inatex 2026 juga berperan sebagai platform business matching yang mempertemukan pelaku industri nasional dan internasional, sekaligus membuka peluang kemitraan dan investasi baru.

"Pameran ini kita tunjukkan pada seluruh masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia sebagai platform optimism," katanya.

Pemerintah berkomitmen memperkuat industri TPT melalui kebijakan strategis seperti perluasan akses pasar domestik dan ekspor, serta pemberian fasilitas fiskal dan nonfiskal guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri dari hulu hingga hilir.

Ke depan, penguatan industri akan difokuskan pada akselerasi adopsi teknologi industri 4.0, penerapan prinsip keberlanjutan, serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi yang mampu memenuhi standar global.

Baca juga: API gunakan kesepakatan ART jadi momentum kebangkitan industri tekstil

Baca juga: Kemenperin: Industri tekstil-alas kaki siap penuhi kebutuhan Lebaran

Baca juga: Pengamat: Tarif nol persen AS untungkan industri tekstil RI

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.