Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup melemah seiring aksi profit taking (ambil untung) pelaku pasar setelah indeks mengalami rally (kenaikan berturut-turut) sekitar sepekan terakhir.
IHSG ditutup melemah 52,36 poin atau 0,68 persen ke posisi 7.623,59. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,37 poin atau 0,57 persen ke posisi 759,95.
“Pelemahan IHSG antara lain akibat profit taking setelah mengalami rally sekitar sepekan terakhir,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari mancanegara, Ratna mengatakan blokade oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Selat Hormuz meningkatkan tekanan terhadap China dan India.
Dengan sekitar 98 persen ekspor minyak Iran menuju China, serta menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, maka meningkatkan risiko hubungan damai yang rentan antara AS dan China.
Di sisi lain, hubungan antara AS dan India juga semakin kompleks, karena kebijakan Amerika tersebut bertentangan dengan kepentingan ekonomi India yang tengah dilanda krisis energi.
Sebelumnya, Trump dijadwalkan berkunjung ke China pada pertengahan Mei 2026, sehingga AS menginginkan hubungan bilateral yang cukup stabil agar pertemuan tersebut berjalan sesuai rencana.
Namun demikian, dengan adanya blokade Selat Hormuz dan ancaman tarif oleh AS, maka meningkatkan risiko akan kegagalan pertemuan tersebut.
Dari dalam negeri, S&P Global Ratings menyatakan bahwa peringkat utang negara Indonesia paling rentan terhadap konflik di kawasan Timur Tengah apabila berlarut-larut.
S&P memproyeksikan kenaikan biaya energi akibat konflik akan meningkatkan biaya subsidi Indonesia dan menekan anggaran belanja negara. Impor minyak yang lebih mahal akan memperlebar defisit transaksi berjalan.
Selain itu, S&P juga menilai percepatan inflasi akan mendorong kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah Indonesia.
IHSG dibuka menguat dan betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu dipimpin sektor transportasi dan logistik yang menguat sebesar 3,27 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor teknologi yang naik masing-masing sebesar 1,75 persen dan 0,44 persen.
Sedangkan, enam sektor menurun yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,13 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen nonprimer dan sektor barang baku yang turun masing-masing sebesar 0,95 persen dan 0,54 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SDMU, BIPP, DEFI, PSDN dan ASHA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni KONI, MSIN, SRAJ, BAPA dan ARKO.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.164.258 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 51,41 miliar lembar saham senilai Rp22,59 triliun. Sebanyak 380 saham naik 292 saham menurun, dan 149 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia pada Rabu petang antara lain, indeks Nikkei menguat 350,61 poin atau 0,61 persen ke 58,228,00, indeks Shanghai menguat 0,58 poin atau 0,01 persen ke 4.027,21, indeks Hang Seng menguat 75,00 poin atau 0,29 persen ke 25.947,32, dan indeks Strait Times menguat 11,08 poin atau 0,22 persen ke 5.018,65.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.