Batang (ANTARA) - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, menyiapkan pembangunan pelabuhan daratan (dry port) dan sarana lain untuk mendukung konektivitas logistik di kawasan itu.
Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Ngurah Wirawan di Batang, Rabu, mengatakan bahwa pengembangan pelabuhan daratan tersebut akan terintegrasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) di atas lahan sekitar 50 hektare.
"Saat ini pembangunan dry port segera memasuki tahap peletakan batu pertama. Proyek ini akan dikerjakan melalui kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia dan Pelindo untuk mendukung konektivitas logistik kawasan," katanya.
Ia mengatakan kawasan tersebut dirancang tidak hanya sebagai pusat industri tetapi juga sebagai kota terpadu yang nyaman untuk hunian.
"Batang bukan sekadar kawasan industri tetapi kami rancang sebagai kota yang lengkap, tempat orang bisa tinggal dan beraktivitas. Sejalan dengan itu, pemerintah juga merencanakan pengembangan sektor pariwisata di kawasan termasuk pembangunan lapangan golf 27 yang ditargetkan dapat beroperasi dalam tiga hingga empat tahun ke depan," katanya.
Selain itu, Kawasan Industri Terpadu Batang juga tengah mengkaji pengembangan waterfront city sebagai bagian dari penguatan kawasan pesisir.
Proyek ini akan dilengkapi dengan pembangunan pulau buatan untuk melindungi pelabuhan dari gelombang laut sebagai alternatif dari pembangunan breakwater konvensional.
"Kami sedang mengajukan izin untuk proyek reklamasi guna membangun dua pulau baru sebagai pelindung pelabuhan di masa depan," katanya.
Ia mengatakan hingga akhir 2025 tercatat sebanyak 39 Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) telah ditandatangani dan 12 pabrik telah beroperasi dan sekitar 20 pabrik masih dalam tahap konstruksi.
"Kami memperkirakan kawasan ini dapat membuka 3 ribu hingga 4 ribu lapangan kerja baru setiap tahunnya. Pengembangan kawasan juga telah memasuki fase kedua, sekitar 200 hektare lahan industri telah terjual," katanya.
Pewarta: Kutnadi
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.