Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Teresa Indira Andani M.Psi., Psikolog mengatakan emosi dan stres merupakan kondisi perasaan yang berbeda namun memiliki keterkaitan satu sama lain.

Kepada ANTARA, Rabu, Teresa mengatakan kondisi stres pada seseorang adalah ketika ia merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi yang ada di depannya. Kondisi ini membuat seseorang merasa tuntutan atau tekanan yang dihadapi lebih besar dibandingkan kemampuan yang ia miliki untuk mengatasinya.

Stres juga cenderung menetap dan tidak selalu hilang hanya dengan distraksi, berbeda dengan rasa bosan atau suntuk yang bisa hilang dengan istirahat atau hal yang menyenangkan.

Baca juga: IDAI: PP Tunas upaya jaga tumbuh kembang anak dari efek negatif medsos

Ia menambahkan, stres bersifat subjektif, di mana satu situasi yang sama mungkin terasa biasa saja bagi satu orang, namun sangat menekan dan berdampak bagi orang lain.

Berbeda dengan stres, emosi merupakan perasaan seperti sedih, marah atau senang yang merupakan ekspresi yang lebih spesifik. Misalnya pada seseorang yang putus cinta mungkin akan merasakan emosi sedih yang merupakan respon wajar dan spesifik terhadap kehilangan.

Tetapi kondisi stres bisa muncul ketika rasa kehilangan tersebut sudah membuat seseorang kewalahan, tidak mampu menjalani hari, memikirkan masa depan dan merasa tidak punya cukup dukungan. Di titik itu, perasaan yang timbul bukan hanya sedih, tetapi sudah ada rasa tidak sanggup menghadapi situasi.

"Jadi sederhananya, sedih adalah perasaannya, sedangkan stres adalah kondisi ketika seseorang merasa terbebani dan kewalahan menghadapi situasi tersebut," tambah Teresa.

Teresa mengatakan, dalam upaya menemani orang yang sedang stres dapat dilakukan dengan cara yang membantu mereka merasa aman dan dipahami, dan bukan langsung memberi solusi.

Hindari buru buru menenangkan dengan kalimat yang menganggap enteng masalah orang lain seperti 'jangan dipikirkan' atau 'santai aja', karena bagi orang yang sedang stres, hal itu tidak mudah dilakukan.

"Kita bisa mulai dengan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi. Misalnya dengan mengatakan 'Kelihatannya lagi banyak ya yang dipikirin' atau 'Aku di sini kalau kamu mau cerita'. Kalimat sederhana seperti ini seringkali sudah sangat membantu," kata Teresa.

Baca juga: Gejala stres halus yang sering tidak disadari

Baca juga: Cara sederhana yang efektif untuk mengatasi stres dan kecemasan

Baca juga: PDSKJI: Perlu peringatan edukatif pada iklan terkait kesehatan mental

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.