Jakarta (ANTARA) -
Kementerian Kesehatan menyoroti maraknya promosi rokok elektronik atau vape di platform digital yang dinilai menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya penggunaan, terutama di kalangan remaja.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Aji Muhawarman mengatakan promosi vape di media sosial dan platform perdagangan elektronik menjadi salah satu tantangan utama dalam pengawasan produk tersebut.
“Masifnya promosi rokok elektrik di media sosial dan platform e-commerce menjadi tantangan dalam pengendalian,” kata Aji dalam keterangan tertulis yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta pada Rabu.
Baca juga: BPKN dukung larangan vape, soroti temuan BNN
Baca juga: Regulasi vape perlu dipercepat, dokter: Remaja jadi kelompok rentan
Ia menjelaskan, paparan iklan yang luas di ruang digital membuat produk vape semakin mudah dijangkau oleh masyarakat, termasuk kelompok usia muda yang menjadi target pasar.
Menurut dia, strategi promosi yang mengangkat gaya hidup modern serta penggunaan visual yang menarik turut membentuk persepsi bahwa vape adalah produk yang aman dan wajar digunakan.
Untuk mengatasi hal tersebut, dalam rangka menegakkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, Kementerian Kesehatan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menekan paparan iklan vape di ruang digital.
Langkah tersebut mencakup sosialisasi regulasi kepada penyedia platform serta penindakan berupa pemutusan akses atau takedown terhadap konten iklan yang melanggar ketentuan.
Sementara itu, Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K) menilai promosi yang menyasar gaya hidup menjadi faktor utama yang mendorong minat remaja terhadap vape.
Faisal menilai pencegahan penggunaan vape pada remaja perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya melalui larangan.
Menurut dia, pembatasan akses menjadi langkah penting, termasuk penegakan batas usia serta pengawasan distribusi, terutama pada penjualan daring.
“Pembatasan atau pelarangan penggunaan zat perasa juga penting karena rasa menjadi faktor utama yang menarik minat remaja,” ujarnya saat dihubungi ANTARA, Rabu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti yang menyoroti risiko nyata seperti adiksi nikotin dan dampaknya terhadap perkembangan otak. Peran keluarga, lanjut dia, dan sekolah juga menjadi kunci dalam pencegahan.
“Program di sekolah perlu tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga melatih keterampilan siswa untuk menolak tekanan sosial dari teman sebaya,” katanya.
Ia menambahkan, strategi paling efektif adalah mencegah penggunaan sejak awal sebelum remaja mulai mencoba.
Baca juga: Vape sama berisikonya dengan rokok, kata pakar
Baca juga: BNN sebut pola peredaran narkotika berkembang pesat dan sulit dideteksi
Baca juga: Pencegahan vape pada remaja perlu libatkan keluarga dan sekolah
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.