Jakarta (ANTARA) - Pengamat Hubungan Internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang akan dilanjutkan pada Kamis (16/4), menunjukkan bahwa diplomasi antara kedua negara berkonflik tersebut masih belum tertutup.
"Kita lihat dari pernyataan Presiden Trump dibaca sebagai sinyal bahwa kanal diplomasi belum sepenuhnya tertutup, ya. Jadi, channel-nya tidak tutup," kata Andrea saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu..
Namun demikian, dia menuturkan bahwa tantangan dalam negosiasi itu tidak sederhana. Sejumlah isu krusial, seperti program nuklir Iran, kepentingan ekonomi, serta kontrol di Selat Hormuz, disebut sebagai titik paling sulit untuk dijembatani.
Di luar isu strategis tersebut, Andrea menilai bahwa keberadaan pihak ketiga, yakni Israel, berpotensi menjadi faktor pengganggu dalam proses negosiasi. Hal itu salah satunya merujuk pada Israel yang tetap melancarkan serangan ke Lebanon di tengah gencatan senjata sementara selama dua pekan yang masih berlangsung.
Baca juga: Israel-Lebanon sepakat negosiasi langsung, dimediasi AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun berdalih bahwa Lebanon dikecualikan dari bagian gencatan senjata.
"Jadi, kalau mereka tidak bisa fokus soal Iran dan Hormuz saja dan mengesampingkan Israel untuk jadi penggagal negosiasi, maka negosiasi akan tetap sama; hasilnya akan tetap fail (gagal)," tegasnya.
Andrea menambahkan bahwa berlanjutnya perundingan damai antara AS dan Iran dinilai oleh sebagian analis hanya sebagai upaya untuk menunda eskalasi ketegangan dan bukan strategi kompromi jangka panjang.
"Selain itu, saya juga baca beberapa analisis, analis menulis bahwa memang mereka optimistis ini bisa jadi tactical advantage untuk menunda eskalasi ketegangan, tetapi bukan sebagai kompromi strategis antara kedua negara," ujar Andrea.
Baca juga: JD Vance mungkin pimpin lagi AS dalam negosiasi kedua dengan Iran
Adapun Trump menyampaikan optimisme kelanjutan perundingan dengan Iran, yang disebutnya bisa terjadi di Pakistan.
"Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan," kata Trump dalam wawancara telepon dengan New York Post, Selasa (13/4).
Dalam proses perundingan dengan Iran, Trump merujuk pada Marsekal Lapangan Pakistan Jenderal Asim Munir, yang memiliki hubungan kuat dengan presiden AS itu, ketika berupaya menengahi penyelesaian konflik Pakistan-India di 2025.
"Dia (Asim Munir) fantastis dan karena itu, kemungkinan besar kami akan kembali ke sana," ujar Trump.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran buntu, tawaran final Washington ditolak Teheran
Baca juga: Hizbullah ungkap syarat utama akhiri permusuhan dengan Israel
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.