Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mendorong pengembangan pengetahuan, investasi, dan infrastruktur secara tepat guna sebagai strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Stella memaparkan bahwa saat ini penguasaan AI masih didominasi oleh negara-negara maju, baik dari sisi pengetahuan, investasi, maupun infrastruktur. Pemahaman terkait penyebab kesenjangan tersebut dinilai penting untuk mengejar ketertinggalan di bidang pengembangan teknologi AI.
"Kita harus melihat kenyataan berdasarkan data. Asah kemampuan yang tepat dan terspesialisasi, investasi kepada hal-hal yang mendukung jawaban dari apa yang dibutuhkan Indonesia, dan bangun infrastruktur di dalam negeri setelah memiliki sumber daya yang dibutuhkan," katanya.
Wamendiktisaintek menjelaskan bahwa kesenjangan pertama terletak pada aspek pengetahuan, di mana produksi paten dan publikasi ilmiah di bidang AI masih dikuasai oleh negara-negara maju.
Oleh karena itu, ia menilai Indonesia perlu menentukan bidang spesialisasi yang menjadi kekuatan nasional, seperti riset rumput laut di mana Indonesia merupakan penghasil rumput laut terbesar di dunia. Stella menekankan bahwa spesialisasi seperti inilah yang perlu digencarkan pembangunannya.
Pada aspek infrastruktur, Wamen Stella menyoroti pentingnya kemandirian dalam pengelolaan data sebagai salah satu aset utama Indonesia. Dia mengatakan AI terdiri dari data, algoritma, dan kekuatan processing.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi ketersediaan data, yang dapat menjadi modal strategis untuk pengembangan AI apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk mengelola data dengan baik dan aman di dalam negeri.
Wamen Stella juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur seperti pusat data atau data center harus mempertimbangkan kesiapan energi yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan, serta dirancang agar tidak membebani kebutuhan energi masyarakat.
Dia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan sektor swasta melalui pendekatan konsorsium dan kemitraan riset.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kata Stella, telah mendorong transformasi kebijakan pembiayaan riset yang tidak lagi hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor industri dalam menjawab kebutuhan nyata pembangunan nasional.
"AI harus kita gunakan untuk pembangunan, bukan sebaliknya. Dengan strategi yang tepat pada pendidikan, investasi, dan infrastruktur, kita dapat memperkecil kesenjangan dan meningkatkan daya saing bangsa," katanya.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.