Jika berhasil, strategi “mendayung di antara banyak karang” dapat menghasilkan tiga keuntungan sekaligus, yakni diversifikasi ekonomi, modernisasi pertahanan, dan peningkatan posisi tawar geopolitik. Namun jika gagal, Indonesia justru dapat terjebak
Jakarta (ANTARA) - Diplomasi Indonesia saat ini menunjukkan upaya "mendayung di antara banyak karang." Berbeda dengan tujuh dekade silam, ketika Mohammad Hatta memperkenalkan metafora klasik, bahwa Indonesia harus “mendayung di antara dua karang.”
Kala itu, dua karang yang dimaksud adalah blok Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet, dua kutub utama dalam pusaran Perang Dingin. Dalam konteks itu, politik luar negeri bebas aktif lahir dari kesadaran bahwa Indonesia tidak boleh terseret arus rivalitas kekuatan besar.
Namun dunia hari ini tidak lagi hanya memiliki dua karang. Yang muncul adalah gugusan banyak "karang": AS, China, Rusia, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, bahkan kekuatan regional menengah yang semakin berpengaruh. Dengan realitas itu, diplomasi Indonesia tampak sedang menavigasi di antara banyak karang sekaligus.
Dalam dua pekan awal April ini, diplomasi itu menunjukkan perkembangan terkini. Pada 13 April lalu, Indonesia dan AS menyepakati peningkatan kerja sama pertahanan melalui kemitraan strategis yang mencakup keamanan maritim, peningkatan kapasitas militer, hingga kolaborasi teknologi pertahanan melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Langkah ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra penting AS dalam stabilitas kawasan Indo-Pasifik tanpa harus terikat dalam aliansi militer formal.
Menariknya, pada tanggal yang sama Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin untuk memperkuat kerja sama strategis di bidang energi, ekonomi, dan pertahanan. Sehari berikutnya, mempererat komunikasi dengan Eropa melalui pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Sebelumnya, pada akhir Maret dan awal April, Prabowo lebih dahulu memperdalam kemitraan dengan Jepang dan Korea Selatan, terutama dalam investasi teknologi dan pengembangan industri. Di saat yang sama, Indonesia juga tetap menjaga kedekatan ekonomi dengan China sebagai mitra dagang utama dan investor strategis.
Rangkaian langkah ini menunjukkan pola diplomasi Indonesia yang memperluas ruang manuver dengan menjalin hubungan simultan dengan seluruh pusat kekuatan global. Indonesia tampak sedang mempraktikkan politik luar negeri bebas-aktif dalam versi yang lebih adaptif terhadap dunia multipolar saat ini.
Jika dibaca sebagai satu pola, terlihat sebuah strategi bahwa Indonesia berusaha hadir di semua meja sekaligus tanpa memilih satu kubu permanen. Sepertinya inilah wajah baru politik bebas-aktif. Lebih cair, lebih pragmatis, sekaligus lebih berisiko.
Baca juga: Pimpinan MPR: Strategi diplomasi Prabowo jaga stabilitas nasional
Baca juga: Seskab: Presiden bawa oleh-oleh kemitraan strategis dari Rusia-Prancis
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.