cara terbaik ... adalah melalui pengembangan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta Miklos Gaspar mengatakan pengembangan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal merupakan cara terbaik untuk membangun keamanan energi suatu negara.
"Seperti yang telah berulang kali dikatakan oleh sekretaris jenderal (PBB), konsekuensi perang di Iran terhadap keamanan energi sangat jelas. Dia (Sekjen PBB Antonio Guterres) mengatakan bahwa pertahanan terbaik, cara terbaik untuk membangun keamanan energi bagi suatu negara adalah melalui pengembangan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal," kata Gaspar di Jakarta, Kamis.
Dengan memproduksi sumber energi sendiri, Gaspar menjelaskan bahwa negara tidak lagi bergantung pada jalur pelayaran global yang rentan, merujuk pada hambatan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
"Energi terbarukan lokal tidak hanya ramah iklim, tetapi juga memperkuat stabilitas energi serta mendukung keamanan nasional secara keseluruhan," ujar Gaspar.
Baca juga: G7 sepakat stabilkan ekonomi global di tengah perang AS-Iran
Senin (13/4), Angkatan Laut AS mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada kedua sisi di Selat Hormuz, jalur perairan yang berkontribusi terhadap sekitar 20 persen pengiriman pasokan minyak dunia, produk petroleum, dan LNG.
Hal itu dilakukan oleh AS karena gagal mencapai kesepakatan dengan Iran dalam perundingan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4).
Hingga saat ini, akibat blokade tersebut, dua kapal tanker milik anak usaha Pertamina masih belum bisa melintasi Selat Hormuz. Akibatnya, Pemerintah Indonesia perlu segera mencari sumber energi lain guna memenuhi pasokan energi nasional.
Terkait energi baru terbarukan (EBT), pada Januari 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kemajuan dalam program transisi energi nasional 2025, dengan capaian bauran EBT sebesar 15,75 persen.
Baca juga: Ekonom nilai kesepakatan dari Rusia dan Prancis jaga ketahanan energi
Keberhasilan itu ditandai oleh rekor penambahan kapasitas pembangkit EBT terbesar selama lima tahun terakhir hingga menyentuh angka 15.630 MW.
Secara terperinci, kapasitas tersebut didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 7.587 MW, bioenergy sebesar 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW.
Selain itu, kontribusi dari sumber energi lain juga terus berkembang, di antaranya tenaga surya sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, angin sebesar 152 MW, pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.
Pemerintah Indonesia juga akan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW. Proyek itu mencakup pembangunan 80 GW PLTS dan 320 GWh baterai (battery energy storage system) di Koperasi Desa Merah Putih, serta 20 GW PLTS terpusat.
Baca juga: Pakar nilai diplomasi energi instrumen vital jaga ketahanan nasional
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.