penguatan biodiesel dapat membantu menekan impor solar serta mendukung stabilitas energi nasional
Jakarta (ANTARA) - Ketika harga energi global kembali berfluktuasi dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia menghadapi tantangan klasik berupa kebergantungan pada impor energi di tengah kebutuhan domestik yang terus meningkat.
Harga minyak dunia bergerak pada kisaran sekitar 100 dolar Amerika Serikat per barel dalam periode fluktuasi terakhir, dipengaruhi gangguan pasokan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan.
Gangguan pada jalur distribusi energi global, termasuk di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kembali menegaskan sensitivitas pasar energi terhadap risiko geopolitik, di tengah dinamika konflik Iran dan Amerika Serikat.
Fluktuasi tersebut berdampak langsung bagi negara importir seperti Indonesia melalui kenaikan biaya impor energi, tekanan terhadap subsidi, serta potensi peningkatan inflasi domestik.
Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi energi nasional masih menjadi tantangan, dengan produksi minyak domestik berada pada level terbatas dibandingkan konsumsi yang terus meningkat.
Kondisi ini membuat Indonesia tetap rentan terhadap perubahan harga energi global yang berasal dari faktor eksternal.
Biofuel sebagai penyangga
Dalam situasi tersebut, biofuel berbasis minyak kelapa sawit menjadi salah satu instrumen penyangga yang dapat dimanfaatkan untuk meredam dampak gejolak energi global tanpa menunggu transformasi energi jangka panjang.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya penguatan kedaulatan energi melalui percepatan implementasi biodiesel sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Arah kebijakan peningkatan bauran biodiesel hingga B50, yakni campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen solar, dipertimbangkan sebagai langkah untuk mengurangi kebergantungan pada impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi domestik.
Program ini merupakan kelanjutan dari implementasi bertahap biodiesel nasional dari B20 hingga B35, serta penguatan B40 yang saat ini menjadi basis utama mandatori biodiesel.
Sejalan dengan itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penguatan biodiesel dapat membantu menekan impor solar serta mendukung stabilitas energi nasional.
Pemerintah menetapkan alokasi biodiesel tahun 2026 sekitar 15,65 juta kiloliter sebagai bagian dari pelaksanaan mandatori biodiesel nasional.
Dari sisi implementasi, biodiesel dinilai dapat segera digunakan karena memanfaatkan infrastruktur energi yang sudah tersedia, sehingga menjadi salah satu instrumen kebijakan yang relatif cepat diadopsi dibandingkan transisi energi lain yang membutuhkan waktu panjang.
Dampak ke sektor hulu
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.