Kontribusi hulu migas terhadap daerah dapat dilihat secara langsung dari DBH migas dan Pajak Bumi dan Bangunan PBB) migas

Jakarta (ANTARA) - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui berbagai kontribusi langsung maupun tidak langsung.

Salah satu bentuk kontribusi nyata tersebut tercermin dari aliran dana bagi hasil (DBH) migas serta pajak bumi dan bangunan (PBB) sektor migas yang menjadi sumber penting pendapatan daerah.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina Rinto Pudyantoro dalam keterangan di Jakarta, Kamis menjelaskan keberadaan industri hulu migas memiliki dampak ekonomi yang luas dan berlapis, khususnya melalui mekanisme penerimaan negara dan daerah.

Baca juga: Industri hulu migas miliki peran strategis dukung perekonomian daerah

"Kontribusi hulu migas terhadap daerah dapat dilihat secara langsung dari DBH migas dan Pajak Bumi dan Bangunan PBB) migas. Ini adalah bentuk nyata penerimaan yang langsung masuk ke kas daerah dan menjadi bagian dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)," ujarnya.

Menurutnya, DBH migas merupakan bagian dari penerimaan negara yang dibagikan kembali kepada daerah penghasil.

Sementara, PBB migas menjadi salah satu komponen pajak terbesar yang juga memberikan kontribusi signifikan bagi daerah. Bahkan secara nasional, kontribusi PBB sektor migas mencapai porsi yang sangat besar dalam struktur penerimaan PBB.

"Dalam konteks nasional, sektor migas menyumbang sekitar setengah dari total penerimaan PBB. Yang menarik, sebagian besar dari penerimaan tersebut, yakni sekitar 98 persen, didistribusikan kembali ke daerah. Artinya, manfaat ekonomi sektor migas sangat besar bagi daerah penghasil," ungkap Rinto.

Di tingkat daerah, kontribusi tersebut juga terlihat, misalnya di Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi. Aktivitas operasional PetroChina International Jabung Ltd memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan daerah.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 2025, kontribusi dari sektor itu mencapai sekitar Rp698 miliar melalui DBH migas dan sekitar Rp280 miliar dari PBB sektor migas.

Baca juga: Pengamat nilai perlu penguatan lembaga hulu lewat revisi UU Migas

Kontribusi tersebut menjadi yang terbesar di antara kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Jambi. Selain itu, kontribusi itu juga menjadi salah satu sumber penting dalam mendukung pembangunan daerah, termasuk pembiayaan infrastruktur, layanan pendidikan, kesehatan serta berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut, Rinto menyampaikan dampak industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan langsung, tetapi juga memiliki efek berganda (multiplier effect) yang jauh lebih besar terhadap perekonomian.

"Seringkali kita hanya melihat dari sisi penerimaan negara atau daerah, padahal itu baru sebagian kecil dari keseluruhan dampak. Aktivitas hulu migas menciptakan efek berantai, mulai dari penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi lokal hingga dukungan terhadap sektor lain seperti listrik dan industri," tuturnya.

Dengan kontribusi yang terus berlanjut, industri hulu migas diharapkan tetap menjadi salah satu pilar utama dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah.

Ke depan, penguatan sinergi antara pemerintah, daerah, dan pelaku industri menjadi kunci untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi sektor itu secara berkelanjutan.

Baca juga: Nilai komitmen TKDN hulu migas tercatat Rp388 triliun

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.