Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng industri untuk mengedukasi publik tentang pilihan makanan sehat melalui kebijakan pencantuman label gizi atau nutri level, sebagai upaya mencegah penyakit tidak menular terutama diabetes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan di Jakarta, Jumat, dari sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular, salah satunya yakni gaya hidup, termasuk pola konsumsi. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, konsumsi minuman manis yang melebihi dari batas terus menerus meningkat.

"Rata-rata konsumsi gula masyarakat Indonesia itu sudah mencapai, satu kali minum ya, itu dia sudah bisa mencapai 50 persen kebutuhannya," ujar Nadia dalam konferensi pers bersama Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dan Kalbe Farma.

Oleh karena itu, katanya, dalam tahap awal edukasi Nutri-level pada pelaku usaha dan masyarakat, gula menjadi fokus utama pelabelan tersebut. Produk-produk yang difokuskan pada awal yakni makanan dan minuman siap saji, karena untuk makanan dan minuman kemasan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih menyiapkan aturannya.

Baca juga: Pemerintah luncurkan label gizi kuatkan edukasi tentang konsumsi sehat

Dia menjelaskan bahwa Nutri-level didesain agar masyarakat mudah memahami kandungan gula, garam, dan lemak suatu produk. Selama ini ada informasi nilai gizi, namun masyarakat tidak terlalu paham.

Nadia menyebutkan bahwa pada desain Nutri-level, terdapat empat tingkatan, yakni A berwarna hijau tua, B hijau muda, C kuning, dan D berwarna merah. Berdasarkan survei, katanya, orang Indonesia memahami skala nilai berdasarkan alfabet. Selain itu, masyarakat lebih familiar hijau, kuning, dan merah karena identik dengan lampu lalu lintas.

Nadia juga menyebutkan bahwa kadar gula dalam produk dihitung dengan persentase, karena lebih mudah dimengerti dibandingkan dengan miligram (mg).

"Karena baru dilaunching kemarin, jadi kita sedang proses advokasi kepada, memang utama kita adalah industri besar. Tapi tidak menutup kemungkinan industri menengah, industri kecil kalau mau berpartisipasi. Nanti pemerintah daerahnya, atau mungkin nanti pemerintah pusat bisa memfasilitasi, karena yang berat kan adalah pengujian laboratoriumnya," katanya.

Menurutnya, dengan adanya edukasi Nutri-level ini, industri diharapkan dapat menyesuaikan serta memberikan produk yang lebih bervariasi, dan konsumen dapat mengubah perilaku menjadi lebih sehat.

Baca juga: Kemenkes susun RPMK untuk pelabelan kandungan gula, garam, lemak

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kalbe Farma Mulia Lie mengatakan, pihaknya siap untuk mendukung kebijakan pemerintah tersebut, dan berkomitmen untuk memberikan produk yang berkualitas dan bernutrisi, serta mengedukasi lewat label gizi yang sesuai.

"Dan jadi kita senang sekali begitu pemerintah meluncurkan program ini untuk mengedukasi. Kita senang. Karena bagi kita adalah mengedukasi promotif preventif lebih baik daripada kuratif," ujarnya.

Mulia menyebutkan, dia merupakan salah satu pemangku kepentingan yang diajak berdiskusi tentang label gizi ini. Terkait perusahaannya, pihaknya akan langsung mengikuti inisiatif tersebut setelah menghabiskan stok kemasan yang ada terlebih dahulu.

Baca juga: BPOM: Pada tahap awal Nutri-level diimplementasikan ke minuman

Baca juga: Mendukbangga sebut Nutri-level upaya kuatkan generasi muda bangun RI

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.