Jakarta (ANTARA) - Wajah dunia pendidikan kita sedang retak. Bukan oleh rendahnya capaian akademik, melainkan oleh sesuatu yang lebih sunyi dan mengerikan: kekerasan seksual.
Ia tidak muncul di ruang kelas, tetapi beredar diam-diam di layar gawai—menyusup, mereplikasi, lalu menyebar. Kita tidak sedang menghadapi sekadar kenakalan remaja. Kita sedang menyaksikan lahirnya bentuk baru kekerasan seksual—yang diproduksi, disebarkan, dan dinormalisasi oleh teknologi.
Hal yang kita saksikan hari ini di sejumlah kampus, bukan sekadar kasus, melainkan fenomena gunung es. Permukaannya baru mulai tampak, sementara di bawahnya tersimpan krisis yang jauh lebih besar dan sistemik. Fenomena kekerasan seksual tidak muncul begitu saja. Apa yang terjadi di sejumlah kampus, hari ini, dapat berawal sejak di sekolah menengah.
Teknologi
Ketika wajah dapat dicuri, ditempelkan pada tubuh yang bukan miliknya, lalu disebarluaskan sebagai bahan olokan, maka yang runtuh bukan hanya martabat individu—melainkan juga batas moral kolektif kita sebagai masyarakat.
Kita hidup di zaman ketika fantasi dapat diwujudkan dengan bantuan teknologi. Wajah dapat dipinjam, tubuh dapat direkayasa, dan kehormatan dapat diperdagangkan dalam hitungan detik. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi mampu melakukan itu, melainkan apakah kita siap menghadapi konsekuensi kemanusiaannya.
Kegelisahan baru pun muncul. Wajah kita beredar di ruang digital—bukan sebagai potret kebanggaan, melainkan sebagai objek yang dipermalukan. Tubuh yang bukan milik kita, adegan yang tak pernah terjadi, namun tampak begitu nyata.
Perkembangan kecerdasan buatan yang semula dirayakan sebagai tonggak kemajuan, kini menyimpan paradoks yang mengkhawatirkan. Sebagai contoh, deepfake—terutama dalam bentuk pornografi—telah menjelma menjadi bentuk kekerasan baru yang sulit dijangkau oleh perangkat hukum maupun kesadaran sosial.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.