counter

Prof. Koesnadi, Penggagas KKN, Telah Tiada

Yogyakarta (ANTARA News) - Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa saat ini masih diberlakukan di berbagai universitas, tetapi tak semua orang mengetahui bahwa penggagas program itu adalah Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri. "Prof Koesnadi memang yang mencanangkan dan mengembangkan gagasan KKN bagi mahasiswa. Sayangnya, kecelakaan pesawat Garuda Indonesia GA-200 di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, Rabu pagi (7/3) telah merenggut nyawanya," kata Kepala Humas dan Protokol UGM, Suryo Baskoro, di Yogyakarta, Kamis. Program KKN bagi mahasiswa dicanangkan dan dikembangkan Prof Koesnadi sat menjabat Kepala Direktorat Pendidikan Tinggi sekitar 1980-an. Program itu bertujuan untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa sekaligus memberikan manfaat bagi pembangunan masyarakat pedesaan. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mengembangkan perguruan tinggi agar lebih tanggap terhadap perkembangan masyarakat pedesaan. "Seiring pergantian tahun, program KKN menjadi sangat populer di kalangan masyarakat luas. Namun, Prof Koesnadi merasa sedih, karena istilah KKN malah digunakan untuk arti yang berbeda, yakni Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme," katanya. Suryo Baskoro menambahkan semasa menjabat Rektor UGM periode 1985-1990, Prof Koesnadi termasuk sosok yang dikenal dekat dengan mahasiswa. Pria kelahiran Tasikmalaya, 9 Desember 1926 itu berupaya menciptakan iklim keterbukaan dalam kampus. Keterbukaan, kesamaan, dan kemitraan adalah pedoman yang digunakan bapak dua puteri itu untuk membangun hubungan dan kerjasama di antara warga UGM dan pihak luar. Penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama itu menghargai mahasiswa sebagai intelektal muda, bukan sekedar calon intelektual. "Menurut Prof Koesnadi, mahasiswa harus mampu menginternalisasikan cara berpikir alternatif, karena masalah selalu berubah sesuai dengan waktu dan tempat, serta membutuhkan pemecahan yang tidak selalu sama," kata Suryo Baskoro. (*)

COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar