Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tujuan utama program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengubah pola pikir masyarakat tentang gizi, bukan sekadar memberikan makanan kepada penerima manfaat.

"Harus ditanamkan bahwa semua anak Indonesia berhak mendapatkan makanan bergizi. Namun, dalam pelaksanaannya, karena melibatkan mitra, kita tidak bisa langsung memprioritaskan kelompok tertentu saja. Maka, saat ini, kami siap mengoperasionalkan sekitar 900 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah terpencil," kata Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan hal tersebut menanggapi perintah Presiden Prabowo Subianto agar MBG fokus diberikan kepada anak-anak yang kurang gizi.

Ia menegaskan BGN telah mengingatkan seluruh mitra dan SPPG agar sebelum menyasar peserta didik, asupan gizi hendaknya terlebih dahulu menyasar kepada kelompok rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Baca juga: BGN: Dana MBG Rp1 trilun/hari diantaranya diserap 1 juta pekerja SPPG

Ia mengemukakan perubahan pola pikir masyarakat tentang gizi kini juga sudah terlihat.

Setiap pagi, katanya, dari Aceh hingga Papua, dari desa sampai dengan metropolitan, masyarakat mulai memahami bahwa makanan untuk anak-anak harus bergizi seimbang.

"Harus lengkap karbohidrat, protein, serat, dan vitamin. Yang dulu hanya dipikirkan sebagian kecil orang, sekarang hampir seluruh masyarakat Indonesia memperhatikan apa yang dimakan anak-anaknya," katanya.

Selama satu tahun program MBG berjalan, ia juga mengatakan adanya keterlibatan langsung masyarakat yang efektif, bahkan percepatan sebagai terasa.

"Anak-anak semakin banyak mendapatkan manfaatnya dan yang paling penting adalah tumbuhnya ekonomi lokal," ucap Sony.

Baca juga: Sebanyak 9 SPPG di Singkawang ditutup karena belum penuhi standar BGN

Baca juga: Menko Pangan ingatkan SPPG wajib serap produk pangan desa

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.