Gresik, Jawa Timur (ANTARA) - PT Mega Global Food Industry (Kokola Group), salah satu perusahaan produsen makanan, memprioritaskan pengamanan pasokan bahan kemasan plastik guna menjaga keberlangsungan produksi di tengah kelangkaan bahan baku plastik akibat gejolak geopolitik global.
Perusahaan menyebut krisis di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada jalur Selat Hormuz, telah memicu kelangkaan naphta sebagai bahan baku utama plastik. Kondisi tersebut berimbas pada lonjakan harga kemasan plastik.
“Sekarang rekan-rekan media pasti semua tahu bahwa kita dihadapkan dengan kelangkaan bahan kemas. Bahan bakunya dari plastik minyak bumi gitu. Yang dimana rantai pasoknya memang terdisrupsi,” ujar Direktur Utama Kokola Group Richard Cahadi dalam kunjungan media di Gresik, Jawa Timur, Jumat.
Ia menjelaskan, kemasan merupakan komponen krusial bagi industri makanan karena tanpa kemasan, produk tidak dapat dipasarkan. Gangguan pasokan kemasan berpotensi menghambat seluruh rantai bisnis perusahaan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kokola Group memprioritaskan pengamanan pasokan, termasuk memastikan kesiapan pendanaan. Pasalnya, pemasok kini cenderung meminta pembayaran di muka di tengah ketidakpastian pasokan global.
Ia menambahkan, langkah tersebut turut didukung kolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
“Karena dengan kelangkaan ini semua supplier minta bayar di depan. Karena kalau kita enggak disupport LPEI dan DJPPR kita pasti akan kesulitan cashflow untuk beli bahan baku dulu gitu,” kata Richard.
Kenaikan harga bahan kemasan plastik saat ini disebut mencapai 40-45 persen. Namun demikian, perusahaan hanya dapat melakukan penyesuaian harga produk di kisaran 5-10 persen guna menjaga daya saing di pasar.
Selain itu, perusahaan juga melakukan efisiensi di lini produksi dan mencari alternatif model kemasan untuk menekan biaya. Adapun Richard memastikan bahwa dari sisi tenaga kerja tidak ada efisiensi yang terjadi.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri tetap melihat adanya peluang. Disrupsi di sejumlah negara dinilai dapat membuka pasar baru bagi produk makanan Indonesia, terutama di kawasan Asia Pasifik yang menjadi pasar utama Kokola Group.
Meski demikian, Richard menilai tantangan terbesar bagi dunia usaha saat ini adalah ketidakpastian harga dan pasokan yang berfluktuasi tajam.
"Kalau uncertainity itu yang paling susah. Itu tantangannya, pengusaha itu uncertainty aja," ujarnya.
Adapun dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri hulu hingga hilir plastik dalam negeri memberikan jaminan ketersediaan stok untuk kebutuhan domestik.
Disampaikan dia, dari pertemuan antara pihaknya dengan industri hulu hingga hilir plastik yang digelar di Jakarta, Kamis (16/4), terungkap optimisme industri terhadap ketersediaan stok plastik di dalam negeri.
“Kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garisbawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” ujar Agus dalam keterangan yang dikonfirmasi.
Baca juga: GAPMMI apresiasi komitmen Menperin jamin pasokan kemasan plastik
Baca juga: INDEF nilai gangguan bahan baku plastik jadi momen perkuat daur ulang
Baca juga: Menperin tekankan industri beri jaminan ketersediaan stok plastik
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.