Roma (ANTARA) - Prancis menyambut kehadiran Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dalam pertemuan Koalisi negara Sukarela (Coalition of the Willing) di Paris pada Kamis untuk membahas upaya membuka kembali Selat Hormuz di tengah konflik AS-Iran.
Sumber di Istana Élysée menyatakan bahwa kehadiran Meloni dapat memperkuat persatuan Eropa dalam menghadapi krisis Timur Tengah.
Pertemuan tersebut dipimpin bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Menurut sumber tersebut, konflik Iran menambah tekanan bagi Eropa di tengah krisis yang sudah berlangsung akibat perang Rusia di Ukraina.
“Hal ini memiliki konsekuensi serius bagi Uni Eropa dan negara-negara Eropa, sehingga penting untuk bersama-sama menentukan langkah yang akan diambil demi kepentingan bersama,” ujarnya.
Kehadiran Meloni bersama Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Starmer di Paris disebut sebagai sinyal positif bagi persatuan Eropa.
Pertemuan yang digelar secara hibrid tersebut diperkirakan diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai kawasan, termasuk Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika Latin dengan tujuan merumuskan rencana misi keamanan di Selat Hormuz.
Sumber Élysée menyebut inisiatif ini sebagai upaya mencari jalan tengah antara kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan risiko kembalinya konflik bersenjata, termasuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.
AS tidak terlibat dalam proyek pengamanan navigasi di Selat Hormuz dan tidak diharapkan berpartisipasi dalam pembahasan di Paris, meskipun Kanselir Merz menyatakan kesediaannya untuk membahas kemungkinan keterlibatan AS.
“Segala sesuatu tentu akan dilakukan melalui dialog dengan AS, namun kami tidak akan bergabung dalam koalisi dengan AS karena kami bukan bagian dari konflik,” kata pihak Istana Élysée, seraya menambahkan bahwa saat ini hanya terdapat gencatan senjata informal dengan durasi yang belum ditentukan.
Paris juga menilai penting untuk memastikan adanya komitmen dari Iran untuk tidak menembaki kapal yang melintas, serta jaminan bahwa Amerika Serikat tidak akan memblokir kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
Negara-negara yang berminat dapat berpartisipasi dalam misi tersebut sesuai dengan kapasitas masing-masing, termasuk melalui pengerahan kapal induk Charles de Gaulle dan fregat Angkatan Laut Prancis yang telah ditempatkan di Mediterania Timur.
Perencanaan terbaik untuk misi tersebut akan disusun, dengan tujuan utama memberikan jaminan kepada perusahaan pelayaran dan asuransi bahwa Selat Hormuz dapat dilalui dengan aman.
Hal ini bergantung pada dua syarat utama, yakni Selat Hormuz harus dibersihkan dari ranjau dan tidak diberlakukan pungutan bagi kapal yang melintas.
Sumber: ANSA-OANA
Baca juga: Jerman tolak wacana tarif kapal di Selat Hormuz
Baca juga: PM Australia bantah AS minta bantuan baru terkait Selat Hormuz
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.