Markas PBB, New York (ANTARA) - Para pekerja kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/4) mengungkapkan bahwa meskipun bantuan kemanusiaan telah memasuki Gaza, pembatasan terhadap barang-barang "berfungsi ganda", termasuk peralatan untuk menyingkirkan amunisi yang belum meledak terus menghambat respons bantuan.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan pembatasan masuknya barang-barang yang diklasifikasikan sebagai berfungsi ganda atau nonhumaniter tetap menjadi hambatan utama, terutama untuk upaya pembersihan bom, pembersihan ranjau, dan pemulihan.

Peralatan yang diperlukan untuk membersihkan dari amunisi yang belum meledak belum disetujui untuk masuk, meskipun risiko terhadap warga sipil dan pekerja bantuan semakin meningkat.

OCHA mengatakan tim PBB mengumpulkan bahan bakar, makanan, perlengkapan medis, pakaian, dan barang bantuan lainnya pada Rabu (15/4) dari dua perlintasan kargo yang beroperasi di Gaza, yaitu Kerem Shalom/Karem Abu Salem dan Zikim.

Mitra aksi penanggulangan ranjau menyatakan kurangnya peralatan pembersihan bahan peledak berkontribusi pada krisis keselamatan yang semakin parah.

"Lebih dari selusin kecelakaan yang melukai lebih dari 30 orang telah terjadi sejauh ini pada 2026. Menangani risiko tersebut secara lebih efektif memerlukan izin untuk membawa peralatan penting ke Gaza dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pembuangan bahan peledak," sebut OCHA.

Pekan lalu, kantor itu menyebut tim aksi penanggulangan ranjau telah menyelenggarakan sesi edukasi tentang risiko bahan peledak kepada lebih dari 12.000 orang di Gaza City, Deir al-Balah, dan Khan Younis.

OCHA menyatakan untuk menangani bahaya tersebut secara lebih efektif, diperlukan izin untuk mendatangkan peralatan khusus dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pembuangan. Tanpa alat-alat tersebut, upaya yang dilakukan tetap terbatas pada meningkatkan kesadaran, bukan mengurangi risiko fisik.

OCHA menyatakan meskipun ada kendala, layanan krusial lainnya tetap berlanjut. Mitra yang menangani kekerasan berbasis gender melaporkan telah memberikan bantuan kepada hampir 8.000 orang, termasuk dukungan kesehatan mental, penyuluhan hak hukum, layanan kesehatan reproduksi serta perlindungan terhadap eksploitasi dan pelecehan seksual.

Lembaga bantuan juga mendistribusikan bantuan tunai dan barang kebersihan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan anak perempuan.

OCHA mengungkapkan ada laporan baru pekan ini mengenai serangan dan penembakan Israel yang berdampak pada kawasan permukiman, yang menempatkan warga sipil dalam bahaya.

Pada Sabtu (11/4) pekan lalu, dua orang, termasuk seorang anak batita, dilaporkan terluka akibat tembakan saat sebuah sekolah PBB yang menampung pengungsi internal di Kamp Jabalya terkena serangan.

Di Tepi Barat yang diduduki, jumlah orang yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka terus meningkat.

OCHA menyebut pada dua pekan pertama April saja, sekitar 150 orang terpaksa mengungsi sehingga jumlah warga Palestina yang mengungsi sepanjang 2026 ini mencapai lebih dari 2.500 orang, termasuk lebih dari 1.100 anak-anak. Sebagian besar pengungsian terkait dengan kekerasan pemukim dan pembatasan akses bantuan, serta penghancuran rumah dan pengusiran.

OCHA sekali lagi menegaskan bahwa warga sipil dan fasilitas sipil, termasuk tempat penampungan, sekolah, dan lokasi kemanusiaan harus dilindungi setiap saat sesuai dengan hukum humaniter internasional.

Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.