Tangerang (ANTARA) - Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangerang, Banten mensosialisasikan bahaya modus penipuan yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk melakukan pencurian identitas suara atau yang dikenal "Telepon Hening".

Kepala Dinas Kominfo Kota Tangerang Mugiya Wardhany di Tangerang, Sabtu, mengatakan modus yang dilakukan pelaku saat menghubungi adalah sengaja diam untuk memancing korban mengeluarkan suara secara jernih.

Baca juga: PM Thailand terhindar dari jadi korban penipuan suara AI

Keheningan saat mengangkat telepon dari nomor asing bukan sekadar gangguan jaringan, melainkan taktik pelaku untuk merekam sampel suara korban. Dengan teknologi AI, rekaman singkat itu bisa diolah menjadi kloning suara yang identik untuk menipu orang-orang terdekat.

"Fenomena ini harus diwaspadai, karena oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan panggilan dari nomor tidak dikenal. Kami meminta warga Kota Tangerang untuk lebih berhati-hati," kata Mugiya Wardhany.

Jika warga merasa sudah telanjur memberikan sampel suara, langkah terbaik adalah segera mengedukasi kontak terdekat. Ketika menerima telepon mencurigakan agar tidak mudah terkecoh jika ada permintaan aneh.

Selain itu, Dinas Kominfo Kota Tangerang juga memberikan imbauan keamanan melalui protokol Silent First bagi seluruh masyarakat, yakni jangan memulai pembicaraan saat mengangkat telepon dari nomor asing, biarkan penelepon yang berbicara terlebih dahulu.

Hindari kata kunci riskan seperti "Iya", "Halo", atau "Siapa ini?" secara berulang karena kata-kata ini sering dijadikan basis kloning. Jika dalam 3 hingga 5 detik tetap tidak ada suara dari penelepon, segera matikan telepon dan blokir nomor tersebut.

Baca juga: Polisi usut dugaan penipuan pengurusan izin dapur MBG

Baca juga: Kemkomdigi-POLRI kolaborasi percepat penindakan kejahatan digital

Gunakan aplikasi pelacak nomor untuk melihat label atau tag dari pengguna lain. Jika nomor tersebut ditandai sebagai Spam atau Penipuan, abaikan panggilannya.

"Siapkan kata sandi rahasia yang hanya diketahui keluarga inti untuk memverifikasi kebenaran jika ada kerabat yang menelepon menggunakan suara mirip, namun meminta bantuan dana darurat," ujarnya.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.