Kami mohon betul perhatian semua dari level bupati, wali kota hingga kepala desa, ini harus bisa kita antisipasi
Kota Padang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan tidak ada indikasi fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut “Godzilla” akan melanda Indonesia. Meski demikian, sejumlah kementerian, lembaga, serta para ahli tetap mengingatkan adanya potensi perkembangan fenomena tersebut.
Pakar cuaca dan iklim dari Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, Nofi Yendri Sudiar, menjelaskan bahwa berdasarkan data Climate4Life per 16 April 2026, mulai terlihat indikasi El Nino kuat, dengan skor yang telah mencapai minus delapan.
Secara ilmiah, para ahli umumnya hanya mengklasifikasikan El Nino ke dalam tiga kategori, yakni lemah, moderat, dan kuat. Adapun istilah “Godzilla” yang belakangan beredar di publik lebih merujuk pada prediksi El Nino dengan intensitas yang sangat kuat, di luar kategori umum tersebut.
Ia menjelaskan El Nino merupakan fenomena alamiah atau siklus yang akan terus terjadi di belahan bumi. Fenomena alam ini terjadi karena adanya perbedaan suhu muka laut di Samudera Pasifik. Mulai dari Pasifik Barat di dekat Papua sampai Pasifik Timur yang di Amerika Selatan yang selalu bergeser.
Pada 2026 ia melihat adanya potensi awan-awan hujan berpindah ke arah Amerika sehingga menyebabkan El Nino atau kekeringan di Indonesia. Namun, kekeringan tadi diperkirakan tidak terjadi di semua wilayah Tanah Air.
Beberapa daerah yang berpotensi terdampak El Nino kuat tersebut yakni Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali hingga ke Papua. Sementara, khusus di Sumbar ia memperkirakan tidak akan terdampak langsung oleh El Nino kuat atau yang disebut juga dengan El Nino Godzilla.
"Jadi, hujannya terjadi di Amerika Selatan, sementara kita di Indonesia kekurangan air di udara untuk pembentukan awan-awan hujan sehingga menimbulkan kekeringan," jelas dia.
Prediksi Sumbar tidak terdampak langsung El Nino Godzilla tersebut diperkuat dengan pola musim ekuatorial yang terjadi di Ranah Minang. Daerah yang masuk ekuatorial mengalami puncak musim hujan pada Maret hingga April dan Oktober hingga November setiap tahunnya.
"Pola ekuatorial ini terjadinya di pantai barat Sumatera. Sementara untuk Lampung dan Sumatera Selatan itu sudah masuk ke pola monsun," kata dia.
Baca juga: Pakar iklim dan cuaca prakirakan Sumbar tidak terdampak El Nino kuat
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.