Antalya (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Palestina Varsen Aghabekian mengatakan bahwa implementasi rencana perdamaian di Jalur Gaza terhambat akibat ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
"Implementasi rencana tersebut terhenti di tahap pertama karena konflik antara AS, Israel, dan Iran mengalihkan perhatian dari proses pemulihan di Palestina," kata Aghabekian kepada RIA Novosti di sela-sela Antalya Diplomacy Forum, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa Palestina terus khawatir akan adanya kemungkinan Israel melancarkan serangan militer baru.
"Tel Aviv tidak menginginkan perdamaian; mereka ingin wilayah Palestina selalu dirundung konflik dan secara terbuka mengungkapkan niatnya terus menjajah Jalur Gaza dan Tepi Barat," kata Menlu Palestina.
Pada pertengahan November 2025, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengesahkan resolusi usulan AS untuk mendukung rencana komprehensif yang disusun Presiden Donald Trump dalam rangka mengakhiri konflik di Gaza.
Resolusi tersebut disetujui 13 dari 15 anggota DK PBB, dengan Rusia dan China abstain.
Rencana komprehensif tersebut mengatur adanya administrasi internasional sementara di Jalur Gaza serta pembentukan sebuah "dewan perdamaian" yang diketuai Trump.
Rencana itu juga mencakup pemberian mandat terhadap pasukan stabilisasi internasional yang akan dikerahkan di Jalur Gaza melalui koordinasi dengan Israel dan Mesir.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: IRGC: Selat Hormuz di bawah kendali ketat militer Iran
Baca juga: Trump: AS akan ambil paksa uranium Iran jika kesepakatan gagal dicapai
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.