Jakarta (ANTARA) - Motorola Indonesia menyampaikan tanggapannya mengenai fenomena keterbatasan stok komponen memori global akibat tingginya permintaan untuk industri kecerdasan buatan (AI) yang berdampak terhadap harga gawai di pasaran.
Country Head Motorola Indonesia Bagus Prasetyo menjelaskan bahwa kelangkaan memori merupakan permasalahan yang sedang dihadapi industri teknologi dan dampaknya turut dirasakan oleh setiap merek yang ada di Indonesia.
"Motorola melihat permasalahan yang ada ini merupakan satu permasalahan yang real yang ada di pasaran dan dihadapi oleh setiap brand yang ada di Indonesia," kata Bagus di Jakarta Selatan, Senin.
Baca juga: IDC prediksi kelangkaan memori masih berlanjut hingga tahun 2027
Bagus mengatakan krisis memori yang melanda industri teknologi global tidak berdampak signifikan terhadap suplai Motorola Indonesia. Sebagai bagian dari grup Lenovo, Motorola mendapatkan dukungan pasokan komponen dari induk usahanya.
"Sebagaimana kita tahu bahwa Lenovo adalah perusahaan yang berbasis IT, penyedia server, penyedia laptop, manufaktur untuk database yang luar biasa besar. Kami sejauh ini masih belum merasakan atau terdampak langsung akibat pasokan (memori) yang kurang," ujar Bagus.
Kendati demikian, Motorola Indonesia tidak menampik bahwa penyesuaian harga dari waktu ke waktu tetap perlu dilakukan.
Baca juga: Debut MacBook Pro dan Mac Studio terbaru ditunda akibat krisis memori
Penyesuaian harga dilakukan karena saat ini perusahaan teknologi memprioritaskan pasokan komponen untuk industri AI sehingga industri pendukungnya akan mengikuti perkembangan pasar saat ini.
"Saat ini prioritas untuk pemenuhan rantai pasok itu ada pada industri AI dan pastinya industri-industri pendukung yang lain akan mengikuti apa yang ada di pasar saat ini," kata Bagus.
Diketahui, proyek infrastruktur kecerdasan buatan (AI) membutuhkan memori sangat banyak yang membuat pasokan untuk perangkat konsumen (PC, laptop, HP) menjadi langka dan harga melonjak drastis sejak pertengahan 2025 dan diprediksi berlanjut di 2026.
Baca juga: Pengiriman ponsel diprediksi anjlok 12,9 persen akibat krisis memori
Laporan pasar terbaru dari perusahaan riset pasar TrendForce menunjukkan kondisi yang cukup berat bagi pasar ponsel pintar dan laptop global. Harga perangkat tidak hanya berpotensi naik, tetapi spesifikasi yang ditawarkan juga dapat diturunkan, terutama pada ponsel kelas menengah dan kelas bawah.
Saat ini, biaya memori memakan porsi yang semakin besar dari total biaya produksi (Bill of Materials/BOM). Karena itu, banyak merek mulai mempertimbangkan untuk menurunkan spesifikasi agar harga jual tetap terjangkau.
Baca juga: Harga ponsel OPPO dan OnePlus akan naik serentak mulai 16 Maret
Baca juga: HP ungkap harga memori capai 35 persen total biaya komponen PC
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.