Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam memanfaatkan warisan Konferensi Asia Afrika (KAA) sebagai landasan diplomasi untuk mendorong solidaritas negara-negara Global South, termasuk dalam menyuarakan isu ketimpangan pembangunan dan utang global, menurut seorang pengamat.
"Meski pemanfaatan warisan KAA belum sepenuhnya konsisten, Indonesia kerap menyuarakan isu-isu besar seperti utang dan ketimpangan pembangunan dalam kerangka solidaritas,” kata Pengamat Hubungan Internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Andrea juga menyoroti dinamika kerja sama transisi energi yang melibatkan negara-negara berkembang, yang saat ini masih banyak dipengaruhi oleh negara-negara maju.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuka ruang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk terus memperkuat kapasitas agar tidak hanya mengikuti kerangka yang sudah ada, tetapi juga berperan lebih aktif dalam pembentukan aturan dan kebijakan global.
Baca juga: 71 tahun KAA: RI gaungkan Dasasila Bandung jadi solusi konflik global
Meski demikian, ia menilai posisi Indonesia saat ini cukup strategis sebagai jembatan dalam memperjuangkan kepentingan Global South di berbagai forum internasional. Peran ini dinilai penting dan berpotensi semakin diperkuat agar tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menghasilkan kontribusi yang lebih konkret.
"Posisi Indonesia saat ini lebih menonjol sebagai jembatan,” ujarnya.
Ia menuturkan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, penguatan konsistensi diplomasi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kredibilitas dan peran Indonesia di tingkat global secara lebih luas.
Baca juga: 71 tahun KAA: Di tangan RI, obor Dasasila Bandung tak boleh padam
Baca juga: Dasasila Bandung: Kompas moral di tengah polarisasi
Baca juga: Pakar nilai semangat KAA tetap hidup, tapi tersandung implementasi
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.