Mendikbud kunjungi peserta UN inklusi di Surabaya

Mendikbud kunjungi peserta UN inklusi di Surabaya

Perwakilan pelajar melakukan "selfie" bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan (kedua kanan), Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kedua kiri) dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) sidak pelaksaan UN Berbasis Kompiter di SMA 1 Hangtuah, Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/4). UNBK di Surabaya diikuti oleh 254 SMA/MA dan SMK dengan jumlah pelajar mencapai 37.730 siswa dan menjadi pelopor pelaksanaan UNBK 100 persen. (ANTARA FOTO/Moch Asim/aww/16.)

Saya mencoba mengapresiasi siswa inklusi dalam pelaksanaan UN dengan menggunakan soal braile pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Geografi di hari pertama,"
Surabaya (ANTARA News) - Mendikbud Anies Baswedan yang didampingi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mengunjungi peserta Ujian Nasional (UN) inklusi pada hari pertama di SMAN 8 Surabaya, Senin.

"Saya mencoba mengapresiasi siswa inklusi dalam pelaksanaan UN dengan menggunakan soal braile pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Geografi di hari pertama," katanya ketika berdialog dengan peserta UN inklusi, Alfian Andhika Yudhistira, di sekolah itu.

Pada kesempatan itu, Mendikbud juga memberikan kartu namanya yang menggunakan huruf braile kepada siswa inklusi untuk mencoba membaca kartu nama dan menyebutkan nomor seluler. Hanya dengan meraba, Alfian lancar menyebutkan nomer telepon dalam kartu nama tersebut.

Peserta UN inklusi, Alfian Andhika Yudhistira mengaku hampir tidak ada kesulitan dalam mengerjakan soal. Untuk memastikan agar jawabannya cocok dengan soal, maka harus membaca keseluruhan materi soal, sehingga bisa dengan mudah menjawab pertanyaan.

"Kesulitannya membutuhkan waktu yang lama untuk memahami soal, meskipun ada beberapa halaman soal yang terbalik kemudian harus mencarinya dari awal, namun UN di hari pertama dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Geografi lancar," kata siswa XII IPS 4 tersebut.

Ia mengatakan persiapan mengikuti UN yang dilakukannya sama hal seperti peserta lain pada umumnya dan tidak ada persiapan khusus. Kisi-kisi soal siswa dengan berkebutuhan khusus dengan siswa pada umumnya juga sama, hanya saja menggunakan huruf braile.

Sementara itu, Kepala SMAN 8 Surabaya, Dra Ligawati MPd, menambahkan dalam pelaksanaan UN maupun simulasi UN, Alfian didampingi oleh guru pendamping, namun pada pada hari pelaksanaan UN didampingi secara khusus dari psikolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

"Alfian merupakan siswa berkebutuhan khusus mulai pertama kali masuk SMAN 8 Surabaya, namun keinginannya yang besar membuat dia mampu melaksanakan UN inklusi. Jumlah keseluruhan siswa inklusi di SMAN 8 Surabaya ada lima siswa, satu di antaranya yaitu Alfian," jelasnya.

Ia mengungkapkan tidak ada perbedaan masa ujian, sama dengan siswa non inklusi. Hanya saja, tempat ujian terpisah di ruang Bimbingan Konseling (BK).

Sebelumnya, Mendikbud juga meninjau penyelenggaraan UNBK di SMA Hangtuah 1 Surabaya yang diselenggarakan tiga sesi setiap harinya, dengan diikuti oleh 398 siswa menggunakan 160 komputer. Setiap sesi diikuti 140 siswa dan empat server utama.

Pewarta: Indra Setiawan/Laily Widya
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016

UN Batal, saatnya mengevaluasi standar pendidikan Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar