Bagi yang terbiasa "ngobrol" dengan AI akan tahu mana manuskrip yang betul-betul hasil berpikir manusia, dan mana yang dengan terang ditulis oleh robot
Jakarta (ANTARA) - Bosan sekali rasanya ketika menemukan sebuah topik yang menarik di media sosial, lalu membacanya, berpikir sejenak, dan menyadarinya itu adalah tulisan karya AI, kecerdasan imitasi.
Hal semacam itu sering kali ditemukan dalam sebuah utas, video pendek vertikal, atau bahkan hanya sekadar takarir. Rasanya kosong. Tulisan robot sangat berbeda dengan tulisan manusia. Kecerdasan imitasi tak berjiwa, maka karya mereka tidak ada nyawanya.
Walau mungkin pesan yang disampaikan itu memang benar adanya, didukung oleh pengetahuan AI yang selalu diperbarui, atau bahkan dilapisi oleh data Google yang tak ada habisnya seperti Gemini. Tapi, pada noktah itu proses berpikir manusia berhenti.
AI secara kodrati adalah alat bantu manusia, bukan pengganti berpikir. Sam Altman, salah satu pendiri OpenAI, tidak meluncurkan Chat Generative Pre-trained Transformer hanya sekali, lalu membiarkan kecerdasan imitasi yang akrab di telinga sebagai GPT itu berkembang dan berevolusi dengan sendirinya. Altman dan timnya terus berpikir untuk mengembangkan versi terbaru Chat GPT.
Lalu, Elon Musk tidak membuat Grok untuk melanjutkan proyek Space X atau mengembangkan seri terbaru kendaraan Tesla. Justru, Musk dan timnya yang terus berpikir untuk mengembangkan Grok seperti apa, agar bisa disematkan dalam kepala Optimus, robot humanoid buatan Tesla.
Tapi sebaliknya, AI yang bersanding dengan kemalasan berpikir secara perlahan akan menumpulkan nalar yang menjadi ciri utama kecerdasan manusia.
Dan hal itulah yang kini sering kali terlihat di jagat maya.
Jawaban AI selalu berpola. Bagi yang terbiasa "ngobrol" dengan AI akan tahu mana manuskrip yang betul-betul hasil berpikir manusia, dan mana yang dengan terang ditulis oleh robot. Banyak-banyaklah "berteman" dengan berbagai macam AI, kelak akan tahu sendiri perbedaannya.
Lebih buruk lagi, fasilitas yang memanjakan dari AI ini tidak cukup sampai pada konten media sosial, tapi telah menjuntai ke institusi yang disebut Pilar Keempat Demokrasi: media massa.
Tidak salah. Sungguh sama sekali tidak salah. Menggunakan AI dalam sebuah pekerjaan, apapun itu, sama halnya seperti seorang insinyur teknik sipil menggunakan kalkulator dalam menghitung presisi bangunan. Juga seperti seorang fotografer menyerahkan pada mode "auto" kameranya untuk menyelaraskan fokus, aperture, iso, dan speed, sehingga ia bisa berkonsentrasi pada sudut pandang dan timing terbaik.
New York Times, salah satu media besar di Amerika Serikat, kini sudah membuat AI Agent. AI Agent adalah tingkatan lebih lanjut dari AI biasa, di mana mereka bisa berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa perlu informasi atau perintah awal dari manusia.
Untuk New York Times, AI Agent di laman portal mereka berfungsi seperti mesin pencari Google, namun sumbernya adalah seluruh berita resmi yang sudah terverifikasi dan kredibel.
Dewan Pers juga tak ketinggalan dengan perkembangan zaman lewat aturan Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik. Artinya, kecerdasan imitasi sungguh tidak dilarang untuk digunakan. Penulis buku Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma, Apni Jaya Putra, bahkan telah mendalami seluk beluk antara AI dan media massa dan mengimplementasikan AI dalam saluran medianya.
Etika
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.